Revolusi Memakan Anak Sendiri
REVOLUSI MEMAKAN ANAK SENDIRI
I.

Lalu kemerdekaan pun diproklamirkan
dan kemelut yang menggeliat
menjadikan nama-nama sebagai pahlawan,
melahirkan juga pengkhianat dalam perjuangan
Di antara kata-kata dan ujung senapan
jurang lebar menganga
menelan segala kecewa,
menguburkan segala harapan
Revolusi meninggalkan jejak
Revolusi membuat luka
Revolusi menyimpan dendam
Dan kemerdekaan kita adalah harga sebuah perjuangan untuk Ibu Pertiwi
II.
Ketika kesadaran akhirnya tersentak
semuanya telah terlambat,
tumbal revolusi meneteskan darah
Dan revolusi belum selesai, kata Soekarno
menjadi berkeping-keping

Ketika revolusi meledak dalam revolusi
pahlawan-pahlawan berguguran
Kapal pun berganti nahkoda
menyisakan Lubang Buaya dalam kenangan
membawa serta curiga berkepanjangan
III.
Akhirnya, ketika tanggalan meluncur jatuh
dalam ruang dan waktu
revolusi menjadi letih
sementara pejuang-pejuang kebebasan telah pulang,
kembali ke rumah
Kita merangkak,
kita berangkat
menjadi tua
Jatirawamangun, Agustus 1985
Urip Herdiman K.
Catatan :
Pernah diterbitkan dalam majalah Historia,
terbitan Studi Klub Sejarah (SKS) FS – UI, Nomor 02/I, November 1985,
dengan judul “Puisi-puisi Revolusi”.
Labels: Puisi
2 Comments:
bagus banget yang satu ini.....
kamu membuat sejarah menjadi enak untuk dibaca
michael kors handbags
michael kors handbags
ferragamo belts
nike lebron 16
michael kors uk
kyrie shoes
bape hoodie
curry 5 shoes
golden goose outlet
goyard handbags
Post a Comment
<< Home