Wajah Seperti Apa?
WAJAH SEPERTI APA?
Suatu pagi, aku baru saja meletakkan pantatku di kursi , dan gelas teh masih terasa hangat, saat gadis itu datang. Lalu kami ngobrol ngalor-ngidul. Tiba-tiba ia bertanya,”Apakah kesetiaan itu? Dan apakah masih ada kesetiaan di zaman sekarang?”
Hahaha… Aku pun langsung tertawa mendengar pertanyaannya. Ah, mungkin perempuan muda ini berpikir bahwa aku seorang filsuf.
Kesetiaan? Apa yang kutahu tentang kesetiaan, setelah aku menendangnya jauh-jauh tahun 1996 lalu, di depan Gereja Bonaventura?
Kesetiaan mungkin lebih mirip dengan artefak purbakala yang terkubur beberapa meter di bawah permukaan tanah. Pernah ada, tetapi tidak banyak yang mengingatnya lagi, kecuali saat sakit hati karena ditinggal pergi kekasih atau dikhianati.
Kesetiaan? Aku hanya tertawa saja mendengar pertanyaannya. Dan kemudian melupakannya. Buat apa memikirkannya?
Hingga tiba-tiba seseorang bertanya padaku. “Apakah kebahagiaan itu? Dimana kebahagiaan bisa dicari?”
Aku menjawabnya tentang sebuah jalan menuju nibbana, tetapi ia menolaknya. Tidak apa-apa.
Tetapi apa wajahku memang wajah seperti seorang filsuf? Atau seperti seorang spiritualis? Entahlah, karena aku juga sering kedatangan orang-orang yang datang bertamu ke rumah hanya untuk meminjam uang. Apakah wajahku kelihatan seperti seorang dermawan yang baik hati, yang tak akan tega untuk menagih uang sendiri?
Hahaha…
Jakarta, 4 November 2009
Urip Herdiman
Labels: Puisi

1 Comments:
wajah dermawan yang baik hatinya :)
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home