The Urheka Project : Mimpi Dalam Mimpi

"All that we see, or seem, is but a dream within a dream." - Edgar Allan Poe, A Dream Within A Dream, 1846.

Tuesday, April 29, 2008

Brain Damage

BRAIN DAMAGE
(Pink Floyd)

The lunatic is on the grass
The lunatic is on the grass
Remembering games and daisy chains and laughts
Got to keep the loonies on the path

The lunatic is in the hall
The lunatic are in my hall
The paper holds their folded faces to the floor
And every day the paper boy brings more

And if the dam breaks open many years too soon
And if there is no room upon the hill
And if your head explodes with dark forbodings too
I’ll see you on the dark side of the moon

The lunatic is in my head
The lunatic is in my head
You raise the blade, you make the change
You rearrange me ‘till I’m sane

You lock the door, and throw away the key
There’s someone in my head but it’s not me

And if the cloud bursts, thunder in your ear
You shout and no one seems to hear
And if the band you’re in starts playing different tunes
I’ll see you on the dark side of the moon



Catatan :


Album : Dark Side Of The Moon, 1973
David Gilmour : Vocals, guitars, VCS 3
Richard Wright : Keyboards, vocals, VCS 3
Roger Waters : Bass, vocals, VCS 3
Nick Mason : Percussion, tape effects
Alan Parsons : Sound engineer

Labels:

Jarum Kesadaran

JARUM KESADARAN

Jarum panjang melangkah cepat,
seperti berlari sprint.
Jarum pendek melangkah pendek,
seperti beringsut perlahan.

Jarum panjang memperdengarkan langkahnya yang berirama,
seperti suara ketukan kaki yang menari di atas lantai.
Tik…tok…tik…tok…

Jarum panjang berjalan dalam hening.
Tanpa suara.
Diam.
Meditasi yang sunyi.

Suatu waktu,
akulah jarum panjang,
kaulah jarum pendek.

Di lain waktu,
akulah jarum pendek,
kaulah jarum panjang.

Kita ada di piringan waktu yang sama,
dengan kesadaran yang (mungkin) berbeda-beda.

Sawangan, 2 Maret – 14 April 2008


Urip Herdiman K.

Labels:

Toilet Atawa Rest Room, yang Tidak Selalu Kecil


TOILET ATAWA REST ROOM, YANG TIDAK SELALU KECIL

Ini bagian belakang dari kehidupan kita sehari-hari yang mungkin sering terlupakan. Tidak apa-apa. Namanya juga kamar kecil, walaupun tidak selalu kecil. Itu kalau di rumah. Kalau kita ke mall, plaza, square ataupun gedung-gedung perkantoran, disebutnya toilet atau juga rest room. Adapula tanpa nama, hanya gambar pria dan wanita. Kita semua tahu artinya, ya tempat untuk buang air kecil alias pipis dan pup.

Toilet atau rest room ini ukurannya bermacam-macam. Memang ada yang kecil, hanya terdiri dari satu bilik dan satu urinoir. Tetapi ada juga yang besar dan lebar. Di hotel-hotel bintang lima, toilet atau rest room besar dan lebar, serta nyaman. Banyak cermin, silakan mejeng untuk yang asli narsis. Tinggal tambahkan tempat tidur, pasti banyak yang mau tiduran di situ.

Saya punya keahlian yang tak ada tandingannya untuk mencari toilet di tempat-tempat umum. Keahlian ini saya dapatkan dari seorang teman kuliah di Sejarah UI - 1984. Pertama, tentu saja, jangan malu untuk bertanya, karena bisa-bisa sesat di jalan. Yang kedua, saya melatih mata saya untuk secepat mungkin menangkap tanda-tanda yang menunjukkan dimana letak toilet. Gak kalah sama matanya pasukan komando Dan yang ketiga, saya melatih hidung saya setajam hidung anjing herder milik kepolisian. Tak pernah salah. Hehehe…

Banyak teman yang merasakan manfaatnya tatkala berjalan dengan saya. Karena ternyata banyak juga orang yang suka malu ke toilet umum atau sekadar menanyakan dimana letak toilet. Ampun…! Saya bisa dengan cepat menunjukkan dimana letak toilet yang terdekat. Pernah suatu ketika keahlian ini juga menguntungkan saya. Seorang teman wanita, mungkin karena merasa tidak nyaman denan lingkungan gedung itu, mengajak saya untuk menemaninya masuk juga ke dalam toilet wanita. Ooh…!

Eh, tetapi sabar, jangan ngeres dulu. Saya tidak diperkosa olehnya, kok.

Nah, beres urusan dengan teman wanita ini, saya sempat melihat sekilas suasana di dalam toilet wanita itu. Astaga! Banyak tissue yang bertebaran, banyak sisa lipstik di cermin. Ada bekas jari. Ada bekas bibir. Ada yang tipis, ada yang tebal. Ada yang mungil. Ada yang lebar. Wow!

Ah, seandainya saya seperti cermin yang selalu disinggahi bibir-bibir wanita itu. Hemm… Mungkin bibir saya sudah kapalan hehehe… *** (25 Maret 2006 – 29 April 2008, Urip Herdiman K.)

Labels:

Sunday, April 27, 2008

Bukit Susu

BUKIT SUSU

Sepasang payudara
tertinggal di mataku
Entah milik siapa

Sawangan, 26 April 2008

Urip Herdiman K.

Labels:

Wednesday, April 23, 2008

Tuhan yang Dipenjara

TUHAN YANG DIPENJARA

Tuhan selalu dipenjara di dalam kata,
oleh kita.

Kita melakukan kekerasan atas nama-Nya,
di dalam nama-Nya,
dengan nama-Nya.

Dan pada akhirnya,
kita juga melakukan kekerasan pada Tuhan.

Sawangan, 7 Maret – 14 April 2008

Urip Herdiman K.

Labels:

Always on My Mind




ALWAYS ON MY MIND
(Chris de Burgh)




Maybe I did’nt love you quite as good as I should have
Maybe I didn’t hold you quite as often as I could have
Little things I should have said and done
I just never took the time

You were always on my mind
You were always on my mind

Maybe I didn’t hold you all those lonely, lonely nights
And I guess I never told you, I’m so happy that you’re mine
If I made you feel second best, I’m so sorry, I was blind

You were always on my mind
You were always on my mind

Tell me, tell me that your sweet love hasn’t died
Give me, give me one more chance to keep you satisfied
If I made you feel second best, I’m so sorry I was blind

You were always on my mind
You were always on my mind

Catatan :


Album : Beautiful Dreams, 1995
Written by : Wayne Thompson, Mark James dan John Chistopher
Vocal : Chris de Burgh
Piano : Peter Oxendale
Electric and Acoustic Guitar : Clem Clempson
Bass guitar : John Giblin
Acoustic guitar and solos : John Themis
Drums : Ian Thomas
Percussion : Miles Bould

Labels:

Tuesday, April 22, 2008

Cantik dan Seksinya Cewek-cewek Rusia


CANTIK DAN SEKSINYA CEWEK-CEWEK RUSIA

Kemarin, Selasa (22 April), di Koran Tempo dimuat berita tentang rumor rencana pernikahan Vladimir Putin (Presiden Rusia) dengan mantan atlet senam Alina Kobaeva yang sekarang menjadi anggota majelis rendah Parlemen Rusia. Dari foto yang tampak, memang cantik. Glek. Sampai rumah, tabloid Bola juga memuat berita yang sama lengkap dengan foto tampak depan. Cantik dan seksi.

Seberapa cantik dan seksikah cewek Rusia ini? Hemm…J Nakal sedikit boleh donk…

Kebetulan sekali, minggu lalu, Jumat – Minggu, 19 – 21 April 2008, saya ke Bali untuk tugas kantor menulis artikel tentang Hotel The Patra Bali, milik anak perusahaan Pertamina. Dahulu hotel ini lebih terkenal dengan nama lamanya, Pertamina Cottages yang melegenda. Setelah renovasi tahun 2002 atau 2003, namanya menjadi The Patra Bali Resort and Villas. Hotel bintang lima plus. Bintang 5 +. Plus pusing maksudnya? Minum saja puyer Bintang Toedjoeh. Hahaha…

Begini ceritanya… Sebagai hotel bintang lima, tentu saja hotel ini punya segala macam kelengkapan fasilitas sehingga bisa disebut bintang lima plus. Tetapi jangan salah, saya tidak ingin menulis tentang hotel ini. Justru saya tertarik dengan pemandangan yang saya temukan di situ. Biasalah ecewek-cewek cantiknya. Dan cewek-cewek itu adalah para pramugari dari Transaero, perusahaan penerbangan Rusia yang melayani rute Moskow – Denpasar PP. Atau kira-kira seperti itulah, dari (sebuah) kota di Rusia ke Denpasar, pergi – pulang. Para pramugari itu menginap di hotel yang dekat dengan Bandara Ngurah Rai karena perjanjian maskapai penerbangannya dengan hotel. Semua awak pesawat Transaero yang singgah di Denpasar, pasti menginapnya di hotel itu.

Pramugari-pramugari ini benar-benar mempunyai fisik yang luar biasa bagus. Tinggi yang rata-rata bisa mencapai di atas 180 cm, semampai, langsing, hidung mancung, kulit putih mulus, bahkan putihnya seputih salju. Mata mereka biru, sebiru Lautan Atlantik. Sayangnya, hehehe…sayangnya, mereka kelihatan dingin. Sedingin salju di Pegunungan Ural. Tidak acuh dengan lingkungan sekitar.

Melihat mereka, saya jadi ingat dengan iklan sebuah telepon seluler dari Korea. Very slim! Tetapi itu baru dari satu sisi saja. Sisi lainnya adalah cara berbusana mereka dan perilaku seks mereka.

Mereka selalu tampail santai, cuek dan seronok, tanpa merasa malu atau risih. Kalau cuma pakai celana hotpant dan tank top, itu biasa. Banyak bule juga demikian. Di Stasiun Gambir atau di Jalan Jaksa, banyak yang seperti itu. Tetapi mereka beda.

Mereka berani mengenakan semacam baju santai (atau baju tidur?) yang tipis dan transparan. Sehingga memperlihatkan secara jelas lekuk-lekuk tubuh mereka, tanpa bra dan hanya mengenakan bikini. Bikini? Tepatnya g-string. Dan itu di ruang makan, setiap pagi, saat breakfast tiba. Glek! Sarapan mata yang gratis.

Bahkan bule-bule lain pun, maybe from Australia or America, melirik atau melotot, sekalipun di dekatnya sedang ada pasangannya. Hehehe…

Dari seorang staf hotel, saya mendapat cerita tentang perilaku seks mereka yang bebas. Mereka bisa bercinta dengan siapa saja yang mereka maui, atau yang mereka temukan. Misalnya, si Irina malam ini bercinta dengan Ivan, pilot. Besoknya bisa saja bercinta dengan Boris, pilot yang lain. Sementara Ivan bercinta Anna.

Tidak perlu cemburu, tidak perlu marah, atau pun ribut. Suka sama suka, sama-sama butuh. Dan mereka bisa melakukannya bukan hanya di kamar bungalow, tetapi bisa juga making love di tepi kolam renang pada malam hari. Atau mereka juga bisa melakukannya dengan tamu hotel yang lain, yang mereka temukan. Ckk…ckkk…

Kini saya bisa merasakan sensualitasnya seorang Anna Kournikova, Maria Sharapova, dan sederet nama lainnya dari Rusia. Cantik, seksi, sensual. Walau agak dingin. Serena Williams pernah berkata tentang Maria Sharapova, setelah ia melihat poster besar atlet tersebut saat ia baru melejit. “Benar-benar seksi dan sensual!” ujarnya terpesona.

Yang wanita saja terpesona, apalagi yang pria. Termehek-mehek, pusing tujuh keliling menginap di hotel bintang lima plus. Plusnya, ya itu, pemandangan cewek-cewek Rusia. Aih! *** (22 – 23 April 2008, Urip Herdiman K.)

Labels:

Monday, April 21, 2008

Malam di Kuta

MALAM DI KUTA

kudapatkan full moon
di pantai Kuta
setelah kehilangan sunset

Kuta, 19 April 2008

Urip Herdiman K.

Labels:

Nama Sebuah Kota

NAMA SEBUAH KOTA

Kereta ekspres malam berlari santai. Oke, santai saja. Jangan terburu-buru. Tokh, ada yang cantik dan enak dilihat di depan mataku. Dan sedikit basa-basi. Aku nyengir, ia merengut.

Dari Gambir menuju Depok, seharusnya hanya setengah jam saja. Sudah sampai di mana ya sekarang? Di luar gelap, dan sedikit gerimis. Ah, tidak penting. Kereta ekspres pun berjalan santai, sangat santai.

“Yogya!”
katanya lagi sembari menahan tawa.
“Pakai yankee dan gulf di tengah.”

“Jogja!”
jawabku tak mau kalah.
“Pakai juliet dan gulf di tengah.”

“Djokdja!”
tulis Dagadu di t-shirt yang ia kenakan.
“Pakai dje ejaan lama dan kilo di tengahnya.”

Kereta semakin melambat. Stasiun mana? Orang-orang berebut keluar. Stasiun Pondok Cina. Aku melihatnya, ia melirik sedikit.

“Atau mungkin Djogdja?”
kataku melambaikan tangan.
“Pakai dje ejaan lama dan gulf di tengahnya?”

Jakarta, 7 – 14 April 2008
Urip Herdiman K.
Catatan :
Puisi ini sudah pernah di-posting dengan judul "Setengah Djam Sadja Dari Gambeer Menoedjoe Depok". Dibacakan oleh Maria Ingrid (alias Malaikat Kecil) dalam acara ulang tahun milis Bunga Matahari di Yogya (atau Jogja), Sabtu, 19 April 2008. Dank u wel voor mijn schaatje, Ingrid.

Labels:

Thursday, April 17, 2008

Ammonia Avenue




AMMONIA AVENUE
(The Alan Parsons Project)


Is there no sign of light as we stand in the darkness?
Watching the sun arise
Is there no sign of life as we gaze at the waters?
Into the stranger’s eyes

And who are we to criticize or scorn the things that they do?
For we shall seek and we shall find Ammonia Avenue

If we call for the proof and we question the answers
Only the doubt will grow
Are we blind to the truth or a sign to believe in?
Only the wise will know

And words by words they handed down the light that shines today
And those who came at first to scoff, remained behind to pray
Yes those who came at first to scoff, remained behind to pray

When you can’t hear the rhyme and you can’t see the reason
Why should the hope remain?
For a man will be tired and his soul will grow weary
Living his life in vain

And who are we to justify the right in all we do?
Until we seek, until we find Ammonia Avenue

Through all the doubt somehow they knew
And stone by stone they built it high
Until the sun broke through
A ray of hope, a shining light Ammonia Avenue

Catatan :


Album : Ammonia Avenue, 1983
Lead vocal : Eric Woolfson
Bass : David Paton
Drums and percussion : Stuart Elliot
Guitars : Ian Bairnson
Keyboards : Eric Woolfson
Fairlight programming : Alan Parsons
Saxophone : Mel Collins

Labels:

Wednesday, April 16, 2008

Makan yang Berkeringat dan Seksi

MAKAN YANG BERKERINGAT DAN SEKSI

Pernakah Anda mendengar olok-olok bahwa orang Indonesia kalau bekerja santai, tetapi kalau makan sampai berkeringat? Saya rasa Anda pernah mendengarnya.

Setiap orang punya cara atau gaya dalam makan. Ada yang elegant, ada yang tenang, ada yang lambat, ada yang mengunyahnya sampai 32 kali sesuai anjuran. It’ a real eating meditation. dan ada yang ngebut seperti mobil Formula 1. Saya? Saya makan dengan penuh gaya. Berkeringat. Benar-benar berkeringat.

Semula saya cuek saja. Makan dengan lahap, pantang menyisakan secuil nasi sedikit pun, tetapi termasuk lambat. Kalau Dewi Sri memang ada, dia pasti senang melihat saya makan. Tidak pernah ribut, tidak banyak bicara, dan tidak pernah protes atau ngedumel apakah makanannya enak atau tidak enak. Yang penting, makan dulu, habiskan dulu. Baru setelah itu mikir, enak apa gak enaknya makanan tadi.

Karena itu saya tidak punya kesulitan dalam soal makan. Indonesian food, okay. Chinese food, okay. Nyobain daging babi juga pernah. Asalkan jangan daging tikus. European food? Eh, ini agak susah. Japanese food? Oh, no. Jadi selama makanan Indonesia dan China, gak masalah.

Yang sering jadi masalah adalah gaya saya makan. Selalu berkeringat. Butir-butir keringat sebesar jagung memenuhi dahi, kening, muka sampai leher, kadang bahkan menutupi pandangan mata. Tidak peduli apakah makanan itu pedas atau tidak. Yang tidak pedas saja berkeringat, apalagi yang pedas. Bukan cuma di ruang yang panas saja seperti di kantin-kantin, di ruang ber-AC sekalipun saya makan berkeringat. Heran? Jangan heran.

Orang makan berkeringat bisa karena beberapa sebab. Yang pertama, tentu saja karena pedas. Yang kedua, mungkin karena masakannya panas. Ketiga,cuaca dan udara sekitar panas, seperti kalau makan di kantin yang dinaungi awning atau di warung tenda. Dan yang keempat, kalau makan dekat kompor, tentu saja berkeringat. Hehehe…

Soal makan berkeringat ini, saya ingat teman saya, Indra Setiawan, seorang pembuat film (filmmaker). Dia anak Filsafat UGM tahun 1983, tetapi tidak selesai, lalu loncat masuk ke Sejarah UI tahun 1985. Dia menulis sebuah cerpen yang tidak pernah diterbitkannya.

Dalam cerpennya itu dikisahkan seorang pria yang pergi dari kota kelahirannya ke kota besar. Wong ndeso masuk kota. Lalu ia bekerja serabutan, sampai akhirnya ia menemukan pekerjaan yang pas dengan dirinya. Ia merasa benar-benar bekerja jika ia selalu berkeringat. Dan pekerjaan itu adalah pedagang gorengan. Dan akhirnya ia pun menemukan wanita yang jadi istrinya juga karena si wanita ini selalu suka melihat pria yang berkeringat dalam bekerja. Apalagi jika ia melihat kancing bagian atas dari si lelaki itu terbuka, memperlihatkan bulu-bulu dada si pria. Hmm, seksi, pikirnya. Sebagaimana akhir kisah-kisah dongeng, mereka pun hidup berbahagia selamanya.

Penutupnya memang khas Hans Christian Andersen. Hahaha…:-)

Saya jadi mikir-mikir neeh. Kok belum ketemu juga ya sama wanita cantik yang senang melihat pria (baca : saya gheeto loh…) berkeringat saat makan. Lalu tiba-tiba dia bilang begini,”Married yuk…” Astaga! Kalau dia cantik, secantik Susan Bachtiar, saya mau. Kalau dia sudah nenek-nenek, rasanya saya perlu pingsan dulu. Bagaimana dengan Anda? Hehehe… *** (15 – 17 April 2008, Urip Herdiman K.)

Labels:

Days Are Numbers (The Traveller)

DAYS ARE NUMBERS (THE TRAVELLER)
(The Alan Parsons Project)

The traveller is always leaving town
He never has the time to run around
And if the road he’s taken isn’t leading anywhere
He seems to be completely unaware

The traveller is always leaving home
The only kind of life he’s ever known
When every moment seems to be
A race agains the time
There’s always one more mountain left to climb

Days are numbers
Watch the stars
We can only see so far
Someday, you’ll know where you are
Remember
Days are numbers
Count the stars
We can only go so far
One day, you’ll know where you are

The traveller awaits the morning tide
He doesn’t know what’s on the other side
But something deep inside of him
Keeps telling him to go
He hasn’t found a reason to say no

The traveller is only passing through
He cannot understand your point of view
Abandoning reality, unsure of what he’ll find
The traveller in me is close behind

Days are numbers
Watch the stars
We can only see so far
Someday, you’ll know where you are
Remember
Days are numbers
Count the stars
We can only go so far
One day, you’ll know where you are

Catatan :



Album : Vulture Culture, 1984
Lead vocal : Chris Rainbow
Bass : David Paton
Drums and percussion : Stuart Elliot
Guitars : Ian Bairnson
Pianos : Eric Woolfson
Synthesizers and saxophone : Richard Cottle
Fairlight programming : Alan Parsons
Oral rendition : Mr. Laser Beam

Labels:

Tuesday, April 15, 2008

Sepi yang Menggigit

SEPI YANG MENGGIGIT

Sepi selalu datang dengan menggigit.
Aauuuwwww!!!

Dan meninggalkan hampa
yang menganga
di dalam hati

Sawangan, 7 Maret 2008

Urip Herdiman K.

Labels:

Sunday, April 13, 2008

Banyak Hot Issue yang Tidak Pernah Selesai dan Amnesia Sejarah

BANYAK HOT ISSUE YANG TIDAK PERNAH SELESAI DAN AMNESIA SEJARAH

Membaca surat kabar dan mengikuti berita-berita televisi, merupakan suatu kewajiban untuk wartawan, termasuk orang seperti saya. Tema apa sih yang lagi panas? Apa hot issue-nya? Karena itu mata selalu harus jeli membaca judul-judul berita surat kabar, dan juga mengikuti berita televisi.

Cuma belakangan ini, terlalu banyak tema besar yang muncul saling susul-menyusul. (Akh, apa bukannya sudah dari dulu memang begitu budaya pemberitaan kita?) Belum selesai satu persoalan, sudah muncul persoalan lain yang menggeser tema panas sebelumnya. Coba saja, belum selesai kasus jaksa Urip Tri Gunawan (UTG) – Artalyta Suryani, eh, sudah muncul kasus ikutannya…konflik di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB, saya menyebutnya Partai Kebangetan Banget), di mana Artalyta jadi bendahara. Nah lho…ketahuan PKB menyimpan dan melindung orang yang bermasalah secara hukum. Makanya partai itu pecah dua. Tidak apa-apa, tokh partai-partai politik memang tidak ada manfaatnya.

Lalu muncul lagi kasus Al Amin Nur Nasution, suami dari penyanyi dangdut Kristina yang melantunkan Jatuh Bangun. Wah, suaminya sekarang lagi jatuh bangun tuh. Dicaci maki orang seantero negeri dan hanya dibela oleh segelintir orang, yang notabene anggota DPR (Dewan Pemalakan Rakyat hahaha…, sorry gheeto loh…).

Belum lagi kasus Burhanuddin Abdullah, Gubernur Bank Indonesia yang ditahan KPK (macan anti korupsi jenis baru yang misai, taring dan kukunya oke banget nih. “Miaauuuuw…!” katanya mengeong keras sekali. Eh, itu 'kan suara kucing ya... Kalau macan, mestinya mengaum. "Aauuummmm!!!"). Tetapi anehnya, kok, banyak bangsat, tikus, kecoa dan bunglon dari DPR itu tidak kebawa ya…? Mereka masih bisa tertawa-tawa di luar sana.

Ada lagi bupati atau walikota yang tertidur dalam suatu acara di Lemhanas minggu lalu, membuat Presiden SBY yang sedang memberikan sambutannya murka. Iya tuh, pejabat-pejabat itu pantasnya memang sesekali ditonjok. Biar ngeh saja…bahwa jadi pejabat tidak ringan dan tidak mudah. Minimal, mata dan telinga mereka harus terbuka dua puluh empat jam!

Di negeri kita ini, banyak hot issue yang muncul dan tenggelam dengan cepat. Pernah ada esais yang menulis di sebuah koran nasional yang besar, besar sekali, sehingga tidak usah disebut namanya karena tidak ada untungnya untuk saya, bahwa umur issue-issue tersebut hanya kisaran dua minggu sampai tiga minggu. Lalu tenggelam dan digantikan issue panas lainnya. Sampai nanti suatu waktu dimunculkan lagi issue tersebut dengan kemasan dan cantelan issue panas yang baru.

Jadi surat kabar, majalah, televisi dan radio hanya membahas tema-tema tersebut untuk jangka waktu pendek lalu melupakannya. Atau mungkin mereka ini kehabisan nafas? Terengah-engah dan tersengal-sengal seperti pelari marathon.

Banyak yang mengatakan bahwa kita sebagai bangsa menderita amnesia, ada yang lebih spesifik menyebutnya sebagai amnesia sejarah. Cepat melupakan, dan tidak bisa memaafkan. Atau mungkin bisa juga dibaca terbalik ya… Bisa memaafkan tetapi tidak bisa melupakan. Mana yang benar ya? Emang gue pikirin hehehe…

Coba saja Anda perhatikan berapa lama issue-issue panas itu muncul dan jadi perbincangan khalayak umum. Banyak, banyak sekali, tidak terhitung.

Ah, jangan-jangan ini juga pekerjaan orang-orang media? Setidaknya, orang media juga ikutan punya andil. Eh, mengapa tidak? Tujuannya jelas, supaya media mereka dicari dan dibaca orang, ditonton dan didengar. Ujung-ujungnya duit juga, kan? Oplag naik, rating meningkat. Loh, saya kok jadi menuduh yang tidak-tidak ya? Hehehe… Ah, kayak situ tidak tahu saja. Cling! *** (14 April 2008, Urip Herdiman K.)

Labels:

Jarak Dalam Pikiran

JARAK DALAM PIKIRAN

Seberapa jauh jarak dari pikiran menuju perkataan,
dari perkataan menuju perbuatan?

Tidak, tidak jauh.
Tetapi juga tidak dekat.

Stadela, 27 Maret 2008

Urip Herdiman K.

Labels:

Friday, April 11, 2008

Crystal Gazing

CRYSTAL GAZING
(Mike Oldfield)

Watching for a spark, it’s a moonlight show
Reaching through the dark. Do you have to go?
Try to put a message through to your sweetheart
Won’t you like to know the secrets of the heart?

[Chorus]

Crystal gazing, crystal gazing
What you gonna find in crystal gazing?
Crystal gazing, crystal gazing
What you gonna find in crystal gazing?

Voices in the dark and the lights burn low
Teach yourself the art that you never know
Try to put a message through to your sweetheart
Won’t you like to know the secrets of the heart?

[Repeat Chorus]

Pictures from the night, would you be my guide?
What you talk about on the other side
Carry you a message through from your sweetheart
Won’t you like to know the secrets of the heart?

[Repeat Chorus]

Watching for a spark, it’s a moonlight show
Reaching through the dark. Do you have to go?
Try to put a message through to your sweetheart
Won’t you like to know the secrets of the heart?

Watching for a spark, it’s a moonlight show
Reaching through the dark. Do you have to go?

Catatan :



Album : Discovery and The Lake, 1984
Vocals : Maggie Reilly
All instruments : Mike Oldfield
Drums and percussion : Simon Philips

Labels:

Wednesday, April 09, 2008

Partai Politik Pantat

PARTAI POLITIK PANTAT


Karena pantat selalu membutuhkan kursi
banyak yang berani investasi
dengan keyakinan pasti kembali

Sawangan, 1 April 2008

Urip Herdiman K.

Labels:

Sunday, April 06, 2008

Setengah Djam Sadja Dari Gambeer Menoedjoe Depok

SETENGAH DJAM SADJA DARI GAMBEER MENOEDJOE DEPOK (Revisi)

Kereta malam berlari santai. Oke, santai sadja. Djangan terboeroe-boeroe. Tokh, ada jang tjantik dan enak dilihat di depan matakoe. Dan sedikit basa-basi. Akoe njengir, ia merengoet.

Soedah sampai di mana ja sekarang? Di loear gelap, dan sedikit gerimis. Ah, tidak penting. Kereta terakhir poen berdjalan santai, sangat santai.

“Yogya!”
katanja lagi maoe ketawa.
“Pakai yankee dan goelf di tengah.”

“Jogja!”
jawabkoe tak maoe kalah.
“Pakai joeliet dan goelf di tengah.”

“Djokdja!”
toelis Dagadu di t-shirt yang ia kenakan.
“Pakai dje edjaan lama dan kilo di tengahnja.”

Kereta semakin melambat. Stasioen mana? Orang-orang bereboet keloear. Stasioen Pondok Tjina. Akoe melihatnja, ia melirik sedikit.

“Ataoe moengkin Djogdja?”
katakoe melambaikan tangan.
“Pakai dje edjaan lama dan goelf?”

Jakarta, 7 - 8 April 2008

Urip Herdiman K.

Labels:

Tuesday, April 01, 2008

Jalan Menuju Stadela

JALAN MENUJU STADELA

Setiap pagi, dari rumah di Sawangan, saya menuju ke Depok, tepatnya Stasiun Depok Lama. Ada yang menyingkatnya dengan nama berbau Italia, Stadela. Keren, kan?

Untuk mencapai Stadela, saya turun angkot D-03 di Jalan Dewi Sartika atau pasar lama, lalu dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar 300 meter. Saya malas naik ojek, karena rasanya saya sudah mabuk ojek (ojek’s drunks hehehe…). Saya pikir lebih sehat untuk berjalan kaki daripada naik motor. Saya tidak suka memanjakan tubuh. Jadilah pilihan jalan kaki menjadi pilihan pertama. Tokh, tak ada ruginya jalan kaki.

Sepanjang jalan kecil, jalan kampung, ada banyak yang bisa saya lihat. Jalan kecil yang rusak, sebagian aspal, sebagian beton, sebagian lagi genangan air. Rumah-rumah petak, kamar-kamar kost, dan kehidupan penghuninya. Pakaian-pakaian yang bergantungan. Eh, yang ini jelas bukan pemandangan yang menyenangkan.

Ada seorang ibu yang keluar rumah masih dengan daster tidurnya, belum cuci muka, lantas mencari tukang sayur. Ada gadis remaja yang baru pulang mengaji. Ada pembantu rumah tangga yang sedang menyirami kebun kecil rumah majikannya. Ada yang sedang sibuk mondar-mandir di depan toilet umum. Hehehe…

Ada pemadangan lain yang sudah lebih maju. Ada pedagang yang sedang mempersiapkan dagangannya. Ada bakul jamu yang sudah keluar dari rumah petaknya. Bakul jamu selalu punya badan yang bagus, langsing dan singset. Enak dilihatlah. Dan ada anak yang mencium telapak tangan ibunya sebelum berangkat sekolah. Hm…

Pemandangan-pemandangan seperti ini membuat kaki saya terus menginjak bumi, sebelum masuk Jakarta. Setelah masuk Jakarta, kaki saya tidak menginjak bumi, tetapi menginjak lantai-lantai gedung bertingkat, namun kepala saya tidak menggantung di atas awan.

Kehidupan sesungguhnya begitu sederhana, tinggal menjalaninya saja. Yang bikin rumit ‘kan pikiran kita, manusianya. Terlalu banyak kemauan dan keinginan, yang tidak sebanding dengan kemampuan dan kebutuhan.

Dengan berjalan kaki, saya beruntung bisa tetap membumi. Bisa melihat kehidupan orang lain. Ada yang susah, ada yang senang. Syukur dapat pemandangan yang bagus dan gratis. Misalnya perempuan yang hanya mengenakan handuk untuk membungkus tubuhnya di depan kamar mandi umum, tanpa risih atau malu. Saya melihatnya, dia santai saja, dan saya pun menikmatinya. Tentu yang saya ingat yang masih muda, bukan yang sudah tua. Hahaha…

Atau sebenarnya, mungkin pada dasarnya kita – manusia – memang senang melihat orang lain berikut kehidupannya. Mengintip. Karena itu, acara-acara infotainment di berbagai stasiun televisi tak pernah sepi. Orang selalu senang mengintip dan membicarakan orang lain. Gossip. Ah, mungkin saya harus cari teman saya yang lulusan psikologi. Minta tolong diperiksa kepala saya. Hiks… *** (2 April 2008, Urip Herdiman K.)

Labels: