The Urheka Project : Mimpi Dalam Mimpi

"All that we see, or seem, is but a dream within a dream." - Edgar Allan Poe, A Dream Within A Dream, 1846.

Wednesday, June 17, 2009

Isu Pertahanan Dalam Kampanye Pilpres 2009

ISU PERTAHANAN DALAM KAMPANYE PILPRES 2009

Bulan Mei 2009 lalu, ketika saya sakit dan menginap di rumah sakit selama empat hari, pesawat Hercules milik TNI – AU jatuh di Magetan, Jawa Timur yang menewaskan sekitar 100 orang. Setelah itu, dua pesawat heli militer menyusul jatuh. Pesawat heli MBB milik TNI – AD jatuh di Cianjur, lalu heli Super Puma milik TNI – AU jatuh di Lanud Atang Sanjaya. Keduanya terjadi minggu lalu, saat latihan. Sekali lagi, jatuh dalam latihan, bukan jatuh dalam operasi militer. Menyedihkan dan memalukan.

Semua pejabat militer dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi, Panglima TNI, dan juga Menteri Pertahanan, tidak mengatakan apa penyebab sebenarnya. Ada yang mengatakan faktor cuaca, ada yang menyebutkan kesalahan manusia (human error). Semua mengakui usia pesawat yang sudah tua, tetapi tidak menyalahkan kurang dan minimnya anggaran pertahanan, termasuk anggaran untuk pemeliharaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI.

Itu baru tiga kecelakaan terakhir yang belum terlalu jauh dari ingatan kita. Sebelumnya sudah banyak kecelakaan yang melibatkan alutsista TNI. Semuanya bisa disederhanakan. Usia alutsista TNI yang sudah uzur, rata-rata diatas usia 30 tahun, dan kurangnya biaya perawatan, sudah seharusnya diganti. Tetapi kemauan politik Pemerintah termasuk politik anggaran Pemerintah membuat peremajaan mesin-mesin perang tersebut terlambat, sehingga sistem pertahanan Indonesia masuk dalam ruang gawat darurat. Tegasnya, Pemerintah tidak memberikan prioritas pada pembangunan TNI yang professional, kuat dan modern.

Situasi ini bisa kita tarik jauh ke awal periode Orde Baru, ketika Soeharto memulai kekuasaannya. Soeharto, untuk meredam kecemasan Malaysia dan Singapura, mengembangkan kebijakan politik luar negeri yang bertetangga baik. Anggaran militer dialihkan ke sektor ekonomi, pembangunan militer direm, dan sebagai kompensasinya, banyak petinggi-petinggi militer mendapat imbalan jabatan-jabatan politik di luar militer, yang dikenal luas sebagai dwifungsi ABRI. Politik pertahanan Pemerintah saat itu adalah membangun tentara yang kecil, efektif dan efisien, dengan ujung tombak pada TNI – AD.

Namun kemudian situasi politik regional berubah, ironisnya, politik luar negeri dan politik pertahanan Indonesia tidak berubah, sekalipun Soeharto sudah jatuh pada bulan Mei 1998. Karena tuntutan reformasi, maka ABRI dikembalikan menjadi TNI dan Polri, serta harus meninggalakn gelanggang politik. Sebagai imbalannya, Pemerintah menjamin akan memberikan anggaran yang cukup bagi TNI untuk dapat mentransformasikan dirinya menjadi tentara yang professional, kuat dan modern. Nyatanya, sampai saat ini hal tersebut tidak dapat direalisasikan.

Pemerintah selalu beralasan bahwa ada sektor pembangunan yang lebih penting dan diprioritaskan, sehingga anggaran pembangunan militer selalu menjadi pilihan pertama untuk disunat, karena Pemerintah kita tetap menjalankan politik luar negeri bertetangga baik sesuai dengan spirit ASEAN.

Akibatnya jelas, pembangunan militer menjadi tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Banyak ahli yang menaruh perhatian pada masalah ini menggungkapkan kekhawatirannya, karena anggaran pertahanan Indonesia merupakan yang paling rendah di Asia Tenggara, sementara cakupan wilayah laut, udara dan darat yang harus dicovernya adalah paling luas.

Kasus Ambalat hanya merupakan akibat saja dari melemahnya kemampuan dan kesiapan TNI dalam menjaga wialayah NKRI. Malaysia pasti tahu betul bahwa kemampuan alutsista TNI yang ditempatkan di Ambalat tidak ada apa-apanya dibandingkan milik mereka yang lebih muda tahun pembuatannya dan lebih canggih sistem persenjataannya. Makanya mereka berani memprovokasi Indonesia, sementara Indonesia hanya bisa melayangkan protes. Tidak ada kekuatan diplomasi yang tidak didukung oleh kekuatan militer yang memadai. Dan Indonesia merasakan hal itu, dilecehkan negeri jiran.

Kasus Ambalat bukan satu-satunya. Masih ingat, ‘kan dengan perjanjian kerjasama Indonesia – Singapura yang ditandatangani beberapa tahun lalu di Denpasar? Indonesia butuh uang, Singapura butuh lahan untuk latihan pesawat-pesawat tempurnya. Untung saja perjanjian itu macet dan gagal, karena dikaitkan dengan perjanjian ekstradisi yang juga merugikan Indonesia.

Banyak contoh kecil lainnya yang bisa ditambahkan. Perlahan tapi pasti, kontrol atas Selat Malaka pun menjadi lemah, dan Singapura menjadi lebih menentukan dibandingkan Indonesia. Pencurian ikan di wilayah perairan Indonesia oleh nelayan-nelayan dari negeri-negeri tetangga seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina bahkan Taiwan, jelas sekali menunjukkan lubang-lubang kelemahan dalam sistem radar pertahanan laut Indonesia.

Ketertinggalan Indonesia juga diperparah oleh paradigma berpikir para perwira tinggi TNI, yang masih menempatkan TNI – AD sebagai ujung tombak dari sistem pertahanan kita. Seorang jenderal bintang empat yang pernah menjabat sebagai KSAD pernah mengatakan, biarkan saja musuh menyerang dan akan digempur habis-habisan di daratan Indonesia. Benar-benar suatu kesalahan yang konyol punya jenderal bintang empat seperti itu.

Di era post modern ini, keunggulan udara dan atau maritime merupakan suatu keharusan yang mutlak dalam membangun tentara yang professional, kuat dan modern. Memang biaya untuk itu sangatlah besar, karena angkatan laut dan udara full technology, tetapi ini merupakan konsekuensi kita sebagai negara maritime.

Nah, di masa kampanye pilpres 2009 ini, dari tiga pasangan calon, ada tiga jenderal yang semuanya dari angkatan darat. Dan ketiganya mewakili cara pandang militer Indonesia yang sudah ketinggalan zaman, yang berorientasi pada pertahanan darat, namun mengabaikan peretahan udara dan laut. Menurut pandangan saya, ketiganya sangat menyedihkan dalam hal wawasan pertahanan. Ketiganya tidak punya wawasan pertahanan yang komprehensif bagaimana seharusnya membangun pertahanan Indonesia. Memang satu calon presiden, yang sedikit lebih punya visi dan menaruh perhatian pada masalah ini, walau seperti slogannya, dia ingin membereskan masalah pertahanan ini lebih cepat lebih baik.

Tetapi apakah mungkin membangun militer yang profesional, kuat dan modern hanya dalam tiga bulan atau seratus hari? Omong kosong ini membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. *** (UHK, 17 - 18 Juni 2009)

Labels:

Tuesday, June 09, 2009

Sakit dan Aspek Spiritual dari Sakit

SAKIT DAN ASPEK SPIRITUAL DARI SAKIT

Tanpa sengaja, bulan Mei 2009 kemarin saya harus menginap empat hari tiga malam di RS Bhakti Yudha, Depok, dari hari Senin, 18 Mei sampai Kamis, 21 Mei, karena kena demam berdarah (DB). Sebelumnya, demam tinggi terlebih dahulu selama empat hari dari Kamis, 14 Mei, memaksa saya istirahat di rumah. Baru kemudian setelah tidak tahan dengan panas tinggi empat hari dan masukan cairan yang terus berkurang, selaput lidah menjadi kuning tebal dan bibir pecah-pecah, saya menyerah untuk masuk rumah sakit. Ternyata kena demam berdarah.

Tetapi ngomong-ngomong, apa sih ‘sakit’ itu?

Sakit, kalau mengikuti definisi WHO yang panjang itu, saya tidak terlalu ingat walau sudah beberapa kali mendengrnya. Tetapi kalau mengikuti definisi Bali Usada Meditasi, kira-kira adalah tidak harmonisnya antara tubuh, pikiran dan jiwa. Dan kalau mengikuti difinisi akupunktur, sangat mudah mengikutinya, yaitu hilangnya keseimbangan yin dan yang.

Sehat adalah kondisi dimana terdapat kesimbangan yin dan yang. Jadi kalau tidak ada keseimbangan yin dan yang, artinya kita sedang dalam keadaan sakit. Mungkin kita tidak merasakannya, sehingga tidak merasa perlu ke dokter atau rumah sakit. Baru setelah parah, demam tinggi beberapa hari, ambruk dan terkapar di tempat tidur, kita merasa perlu mencari bantuan atau pertolongan dokter.

Tentang sakit ini, saya berani katakan, tidak ada satu orang pun yang ingin sakit. Tetapi kalau sakit datang berkunjung dan menginap di tubuh kita, mau tidak mau, kita harus beristirahat, mungkin minimal bedrest. Tetapi bisa saja sakit itu berlanjut dan menjadi parah.

Kalau mengikuti kedokteran barat yang mekanis, sakit dilihat sebagai gangguan yang sifatnya fisik. Namun saya juga mencoba melihatnya dari aspek penyembuhan alternatif. Dalam berbagai teori penyembuhan alternatif, sakit bukanlah sekadar kerusakan mesin saja, tetapi juga melibatkan aspek spiritual. Manusia bukan cuma sekadar tubuh yang berdarah-daging saja, tetapi juga meliputi aspek pikiran dan jiwa. Sakit bisa datang dari unsur-unsur pikiran dan kejiwaan.

Dalam teori lima unsur akupunktur, jelas perannya emosi atau yang resminya disebut penyebab penyakit dalam (PPD). Yaitu marah yang berhubungan dengan Liver/Gall Bladder, terkejut/gembira dengan Heart/Small Intestine, berpikir/rindu dengan Spleen/Stomach, kuatir/sedih dengan Lung/Large Intestine, dan takut dengan Kidney/Bladder. Segala yang berlebihan, akan mengganggu meridian-meridian dan organ-organ tersebut, tinggal seberapa jauh gangguan itu terjadi. Apakah yin dan yang, apakah letaknya masih di luar atau sudah di dalam, apakah jenisnya dingin atau panas, dan apakah sifatnya lemah atau kuat.

Sementara itu saya juga percaya bahwa ada penyakit karena faktor spiritual, yang mungkin jarang atau tidak banyak diketahui, seperti misalnya penyakit karma, akibat dari karma di kehidupan-kehidupan kita yang lampau. Penyakit bisa muncul tiba-tiba, mendadak tetapi bisa juga lama menetap tetapi sulit disembuhkan. Anda percaya? Hahaha…

Setelah di rumah sakit, saya pun bisa melihat aspek yang lain dari sakit. Yah, mungkin Tuhan sedang berbaik hati pada saya, sehingga memberikan sakit untuk beberapa hari. Dengan demikian, saya bisa ‘cuti’, alias terbebas dari rutinitas pekerjaan sehari-hari, walau harus tidur di rumah sakit. Maklum, sebagai pekerja outsourcing, saya tidak punya cuti. Hehehe…

Di saat-saat seperti itulah, ketika sakit, adalah kesempatan yang baik bagi kita untuk introspeksi melihat ke dalam diri sendiri. Mungkin saja selama ini, urusan kantor dan pekerjaan, urusan mencari uang, sudah terlalu banyak menyita energi kita. Kalau tidak dapat cuti, ya tubuh sendirilah yang akan memintanya dengan sakit itu. *** (UHK, Rabu, 10 Juni 2009)

Labels:

Thursday, April 30, 2009

Anomali Politik dan Koalisi Tanpa Etika

ANOMALI POLITIK DAN KOALISI TANPA ETIKA

Pemilu 9 April 2009 telah berlalu, dan hasilnya kita sudah tahu melalui quick count yang menempatkan Partai Demokrat sebagai pemenang, sementara Golkar dan PDIP ada di urutan kedua dan ketiga. Kenapa quick count? Ya, karena perhitungan resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) sampai tulisan ini dibuat, belum keluar, padahal dana untuk pengadaan perangkat IT-nya milyaran rupiah. Hehehe…

Pasca pemilu, yang kita lihat adalah manuver-manuver para politisi untuk membentuk koalisi menghadapi pemilihan presiden (pilpres) 9 Juli 2009 yang akan datang. Koalisi? Iyalah, ini memang fenomena aneh dan mungkin hanya ada di Indonesia saja.

Saya bukan ahli hukum tata negara, apalagi konstitusi, tetapi dari beberapa wawancara saya untuk majalah tempat saya kerja dengan para pakar politik, saya sepakat dengan mereka bahwa ini anomali dalam dunia ilmu politik.

Konstitusi kita, UUD 1945, mengamanatkan bahwa sistem pemerintahan kita adalah presidensil, dimana presiden menjadi kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Namun sejak reformasi bergulir, tepatnya pasca pemilu 1999, kita akrab dengan istilah ‘koalisi’, dengan berbagai judul dan penamaan yang memberikan kesan bahwa negara dan bangsa ini sedang ada di tepi jurang kehancuran dan perlu diselamatkan dari para bajak laut dan perompak.

Koalisi, dalam pemahaman saya, sebenarnya hanya ada di dalam sistem pemerintahan parlementer. Di dalam sistem itu, ketua partai pemenang pemilu menjadi perdana menteri. Atau kalau suaranya masih belum cukup, perlu didukung sejumlah partai untuk menjadi perdana menteri. Jadi bisa juga ketua partai minoritas menjadi perdana menteri, jika ia mampu menggalang dukungan untuk meraih mayoritas suara di parlemen.

Itulah yang terjadi di Indonesia. Hasil pemilu atau pemilihan legislative tidak menghasilkan partai mayoritas, sementara untuk masuk dalam pilpres, peraturan undang-undang – yang dibuat dengan wawasan jangka pendek per 5 tahun - menentukan hanya partai yang meraih suara 20 % atau koalisi yang menghimpun 25%, boleh mengajukan calon presiden dan wakil presiden.

Akibatnya yang terjadi adalah politik dagang sapi yang berwawasan jangka pendek dan mengorbankan kepentingan rakyat yang lebih luas. Tidak ada satu partai pun yang berani mencalonkan paket presiden dan calon wakil presidennya dari satu partai, termasuk partai yang meraih suara terbanyak. Pilihannya, ya koalisi itu yang sebenarnya sangat parlementer. Sangat menggelikan sekali.

Kerancuan sistem pemerintahan kita memang sudah dimulai dari saat Republik Indonesia ini masih balita, November 1945. Itu terjadi ketika Sutan Sjahrir melakukan silent coup (kudeta diam-diam) dengan menendang Soekarno dan Hatta ke atas, dan menjadikan dirinya sebagai perdana menteri, yang pertama untuk Republik Indonesia. Alasannya, karena Soekarno dan Hatta adalah kolaborator Jepang, sementara Sekutu hanya ingin berunding dengan orang yang bersih dari Jepang.

Hal itu berlanjut sampai perang kemerdekaan berakhir dan Indonesia menjelma sebagai negara bagian Republik Indonesia Serikat bentukan Belanda. Ketika RIS dibubarkan, dan RI yang berkedudukan di Jogjakarta dipulihkan, jabatan perdana menteri pun tetap ada, hingga periode akhir dari kekuasaan Soekarno. Justru ketika Soeharto berkuasa, ia meniadakan jabatan perdana menteri itu, dan menegakkan sistem presidensil yang kuat, dimana semua kekuasaan ada dalam genggamannya.

Sejarah Indonesia memang penuh dengan eksperimen politik, yang memberikan tempat luas pada para petualang politik untuk pamer diri dan unjuk gigi, dibungkus dengan slogan dan jargon yang memberikan kesan bahwa mereka adalah penyelamat, seperti ksatria-ksatria abad pertengahan. Tidak salah kalau ide-ide mesianistik seperti Ratu Adil, Imam Mahdi dan Satria Piningit selalu mendapat tempat.

Bayangkan, bagaimana seorang ketua partai yang cuma meraih tidak sampai 4% suara, bisa dengan pede menggalang koalisi untuk mendukung pencalonan dirinya sebagai presiden? Sungguh tidak masuk akal sehat. Kalau dia menang, ya mungkin memang nasibnya bagus. Kalau dia kalah, ya dia hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah.

Akibat lebih jauh, bisa kita lihat sekarang di depan mata. Kabinet menjadi terbelah. Presiden dan Wakil Presiden yang berkuasa (incumbent) mungkin akan bertarung dalam pemilihan presiden. Belum lagi partai-partai yang ada di dalam kabinet juga punya agenda sendiri-sendiri, tergantung ke arah mana angin berhembus. Dan semua para calon itu selalu mengatakan bahwa mereka tidak punya ambisi untuk menjadi presiden.

Benar-benar sebuah anomali politik, terutama koalisi-koalisi yang sedang dibangun untuk pilpres mendatang. Koalisi tanpa etika. Mungkin ini hanya salah satu sinetron Indonesia saja, tanpa skenario dan hanya mengejar jam tayang. Kebetulan, yang satu ini bisa tayang di semua stasiun televisi dan media cetak nasional. *** (UHK, 30 April 2009)

Labels:

Sunday, April 26, 2009

Belajar Akupunktur, Membangun Puzzle

BELAJAR AKUPUNKTUR, MEMBANGUN PUZZLE

Akupunktur? Ya, banyak yang mengenal akupunktur dengan nama tusuk jarum. Akupunktur hanya salah satu bentuk pengobatan atau penyembuhan alternatif yang berkembang belakangan ini, sebagai alternatif atau pelengkap dari kedokteran barat (baca : konvensional) yang kita kenal.

Akupunktur bisa dilihat sebagai suatu bentuk penyembuhan yang berdiri sendiri, tetapi bisa juga dilihat sebagai bagian dari traditional Chinese medicine (TCM). Akupunktur sudah ada – dalam bentuk yang awal - sejak 3000 tahun sebelum masehi. Jadi jauh lebih tua dibandingkan dengan kedokteran barat. Atau mungkin seusia dengan pengobatan ayurveda dan yoga dari India.

Orang melihat pasien ditusuk tubuhnya dengan jarum-jarum dan sembuh. Tetapi orang banyak yang tidak paham bagaimana proses akupunktur bekerja dan menyembuhkan pasien. Dan yang lebih jauh lagi, ternyata belajar akupunktur jauh lebih sulit daripada yang terlihat atau yang diperkirakan. Bahkan dokter-dokter yang belajar akupunktur pun belum tentu lulus dari ujian lokal dan ujian komptensi nasional. Sebabnya, teori-teori akupunktur berbeda dengan teori kedokteran barat. Jadi dalam belajar akupunktur, dokter sama saja dengan peserta lain yang datang dari kalangan awam.

Pemahaman ini mulai saya dapat karena saya sendiri sedang belajar akupunktur, sebagai suatu bidang keahlian penyembuhan alternatif yang terukur dan dapat dipertanggung jawabkan. Keinginan saya tidak muluk, hanya ingin menjadikan akupunktur sebagai suatu profesi untuk bekeerja mandiri. Soalnya capai kerja di tempat sekarang, tidak ada penghargaan dan tidak ada pengembangan.

Belajar akupunktur berarti harus banyak dan kuat menghafal berbagai teori. Mulai dari teori Yin Yang, teori Lima Unsur (Wuxing), teori fenomena organ (Cang Siang), teori Chi dan cairan-cairan tubuh, teori meridian (ada 12 meridian utama plus 2 meridian istimewa yang wajib dikuasai) beserta perjalanannya dari awal hingga akhir, titik-titik akupunktur (sejumlah 361 titik, masih ditambah dengan titik-titik yang baru ditemukan), delapan dasar diagnosis, empat cara pemeriksaan, penggolongan sindrom, dll., dll. Fuih! Berat!!!

Begitu banyak teori yang harus dihafal, semua seolah berebut untuk masuk dalam ingatan, seperti hendak masuk ke dalam mulut botol. Padahal itu baru hanya sekadar menghafal dan mengingat, belum melihat logika dibalik teori-teori tersebut dan menghubungkannya satu sama lain.

Ketika sesi titik-titik akupunktur, saya merasa jenuh, bosan dan capai. Saya pikir lebih mudah belajar chikung, saudara akupunktur dalam rumpun TCM. Tidak perlu paham teorinya yang rumit, yang penting latihan setiap hari. Ternyata akupunktur tidak seperti itu.

Sejak tahun 1996, ketika saya memulai petualangan saya dengan belajar penyembuhan prana, latihan yoga, reiki, meditasi, chikung, saya belum menemukan bentuk peneyembuhan yang sedemikian rumit dan berat dalam proses belajarnya. Bentuk-bentuk penyembuhan ini hanya menuntut pemahaman dan latihan rutin setiap hari, setengah jam atau satu jam. Beda dengan akupunktur yang memakan waktu enam bulan bahkan lebih. Program yang saya ikuti saat ini rencanya sembilan bulan, sampai Oktober 2009. Dan kewajiban untuk ujian lokal dan ujian kompetensi nasional, tanpa ada jaminan akan lulus.

Tetapi okelah, semua sudah saya putuskan. Akupunktur harus jalan terus, lulus atau tidak lulus. Bagi saya akupunktur seperti membangun sebuah puzzle raksasa yang dimulai dari empat cara pemeriksaan, sesi yang saat ini sedang saja jalani. Di bagian ini, akupunktur kembali menjadi menarik untuk saya, karena saya mulai bisa melihat apa yang pertama dikerjakan seorang akupunkturis ketika menangani pasiennya. Setelah itu, saya harus mencari potongan-potongan puzzle lainnya untuk direkonstruksi, sehingga bisa membuat diagnosa apakah seseorang sehat atau sakit berdasarkan teori-teori akupunktur.

Dan tentu saja, saya harus kembali ke motivasi awal, untuk apa saya belajar akupunktur. Tanpa motivasi yang kuat dan utuh, mungkin memang akan gagal. Tetapi dengan motivasi yang kuat dan utuh, saya yakin saya bisa melewati ini. Bosan kerja untuk orang lain. Kalau bisa bekerja mandiri untuk diri sendiri, kenapa tidak?

Barangkali disini ujian yang sesungguhnya. Bukan hanya dalam akupunktur saja, tetapi juga dalam semua bidang kehidupan. *** (UHK, 27 April 2009)

Labels:

Thursday, April 02, 2009

Brawn GP dan Semangat Olahraga

BRAWN GP DAN SEMANGAT OLAHRAGA

Brawn GP, yang dibangun Ross Brawn dari puing-puing Honda Racing Team, melakukan debut yang sangat gemilang mengawali musim kompetisi balap Formula I, dengan menjuarai GP Australia yang berlangsung di Sirkuit Albert Park, Melbourne, pada Minggu, 29 Maret 2009. Dua pembalapnya, Jenson Button dan Rubens Barrichello, menempati podium 1 dan 2, setelah sebelumnya juga merebut pole position pada babak kualifikasi.

Media-media menyambutnya bak kemenangan Cinderella. Saya melihatnya sebagai kemenangan semangat olahraga sejati, yang mengatasi segala-galanya, termasuk fanatisme pada tim.

Secara pribadi, saya pendukung tim McLaren sejak saya mengikuti berita-berita Formula 1, mungkin hampir 25 tahun lalu, bersamaan dengan terbitnya tabloid Bola. Dan di sepakbola, saya mendukung Everton FC di Liga Inggris, yang sempat menguasai puncak Liga Inggris periode 1984/1985 dan 1986/1987. Hal itu terbawa sampai sekarang.

Saya tetap mengikuti perkembangan kedua tim tersebut, jatuh bangunnya McLaren di Formula 1 dan Everton di Liga Inggris. Minimal, saya selalu ingin tahu hasil-hasil yang mereka capai setelah suatu race atau setelah pertandingan liga di akhir pekan. Menang, saya senang. Kalah, ya tidak apa-apa.

Tetapi zaman juga berubah. Selalu ada tim yang dominan, dan selalu ada tim yang menjadi penantang, atau sekadar cuma kuda hitam. Dan saya pun menikmatinya. Mendukung tim favorit saya secara tradisional, namun juga suka dengan mnculnya tim-tim baru yang punya potensi.

Bayangkan ketika Ferrari mendominasi balap Formula I selama 5 tahun pada awal milenium ini. Sangat membosankan. Seperti penonton yang lain di belahan dunia manapun, saya meninggalkan televisi. Tanpa perlu menonton teve, saya bisa menebak siapa juaranya. Michael Schumacher. Juga sangat membosankan ketika Manchester United selalu juara liga. Makanya saya pun suka dengan Arsenal ketika bisa mengganggu dominasi MU. Begitu pula ketika Chelsea juara dua kali berturut-turut.


Di satu sisi, saya punya tim favorit yang selalu saya dukung, seperti McLaren dan Everton. Tetapi di lain sisi, saya juga harus mengakui kalau ada tim lain yang kuat dan layak menyandang titel juara. Namun juga saya tidak suka dengan tim yang terlalu kuat dan terus-menerus mendominasi, karena mengakibatkan kebosanan.

Olahraga merupakan suatu arena untuk melihat munculnya juara-juara baru secara fair. Juara lama berjuang mempertahankan gelarnya, tim lain mencoba merebut gelar dari juara bertahan. Kemapanan membuat kompetisi jadi tidak menarik untuk ditonton, apalagi diikuti sampai akhir. Kejuatan tim baru, seperti Brawn GP di Formula I tahun 2009 ini, Hull City di Premier League dan Hoffenheim di Bundesliga, sangatlah menyegarkan.

Saya berharap selalu ada tim yang bisa menggangu, dan bahkan mematahkan dominasi tim juara yang terlalu kuat dan terlalu lama bertahta. Jika tidak ada kejuatan, buat apalagi menonton teve dan mengorbankan acara lain, kalau sudah tahu siapa yang menang dan siapa yang juara? Saya pikir, demikianlah semangat olahraga sejati. Harus ada penantang yang dapat memecahkan kemapanan, menghasilkan kejutan yang tidak cuma sekali, dan menjadi juara di akhir musim. *** (UHK, Selasa, 31 Maret 2009)

Labels:

Friday, February 06, 2009

Pertamina dan Stigma Negatif (Revisi)

PERTAMINA DAN STIGMA NEGATIF
(Revisi)

Stigma, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, diartikan (1) ciri negatif yg menempel pd pribadi seseorang krn pengaruh lingkungannya; (2) tanda.

Keluarga tapol yang terkait Peristiwa G.30.S/PKI terkena stigma ‘kiri’. Aktivis Petisi 50 terkena stigma ‘pembangkang’. Megawati terkena stigma ‘pendiam’. Amien Rais punya stigma ‘plin-plan’. Tim nasional PSSI tidak bisa lepas dari stigma ‘kalah melulu’. Dan lain-lain. Termasuk BUMN terkena stigma ‘kinerjanya buruk’. Di sini, stigma menjadi semacam kutukan yang diterima turun-temurun, dari generasi ke generasi. Dan sulit untuk menolak atau menghindarinya, apalagi menghapusnya. Mungkin sampai terbawa ke dalam mimpi.

Minggu malam, 18 Januari 2009 sekitar pukul 21.30, Depot Plumpang di Jakarta Utara, milik Pertamina, meledak dan mengakibatkan kebakaran dahsyat sepanjang malam. Ketinggian api sampai 100 meter, bisa dilihat dari jarak 20 Km dari lokasi, sementara suasana panas karena kobaran api terasa sampai sejauh sekitar 1 Km dari pusat api.

Sebelumnya, kita hiruk pikuk dengan kasus minyak Zatapi. Belum sampai sebulan yang lalu, kita dipusingkan dengan (berita-berita) ‘hilangnya’ Elpiji (LPG) dari pasaran selama beberapa hari. Baru pulih dari demam LPG, disusul dengan krisis BBM di sekitar pergantian tahun 2008 menuju 2009. Krisis BBM reda, lalu tiba-tiba muncul kasus ledakan Depot Plumpang.

Ada apa dengan Pertamina? Kenapa segala sesuatu yang terjadi di BUMN itu selalu menarik perhatian orang?

Pertamina tentu saja baik-baik. Hehehe… Yang tidak baik adalah orang yang selalu ingin campur tangan urusan intern Pertamina, atau selalu mencari keuntungan dari semua persoalan yang dihadapi Pertamina.

Dalam banyak hal yang berkaitan dengan energi minyak dan gas bumi di negara ini, Pertamina selalu berada dalam keadaan serba salah. Hal ini bisa terjadi karena tidak banyak yang menyadari posisi hukum Pertamina.

Pertamina, yang didirikan pada 10 Desember 1957, pernah berkembang menjadi konglomerasi BUMN pertama di Indonesia, dibawah Ibnu Sutowo sampai kejatuhannya tahun 1975 karena terbelit skandal keuangan ratusan juta dollar tahun itu. Pertamina saat itu, sesuai dengan UU No. 8 tahun 1971 tentang Migas (ini satu-satunya undang-undang tentang badan usaha milik negara) mengemban dua tugas utama. Pertama, Pertamina sebagai regulator dimana semua kontraktor production sharing (KPS) tunduk pada Pertamina. Dan kedua, Pertamina sebagai player. Namun di era ini, peran Pertamina sebagai regulator yang lebih menonjol. Bahkan di tahun 1980-an, selama beberapa tahun APBN Indonesia ditulangpunggungi hasil dari ekspor minyak dan gas bumi. Tidak salah, karena saat itu produksi minyak Indonesia sedang top mendekati 2 juta barrel dengan jumlah penduduk masih di sekitar angkat 130 – 140 juta jiwa.

Inilah yang membuat orang melihat Pertamina dilihat sebagai agent of governement, tidak lebih dari kepanjangan tangan Pemerintah. Pertamina masuk ke semua sektor, seperti perhotelan, perumahan, pertanian, pupuk, penerbangan, dan lain-lain. Semua datang ke Pertamina untuk minta duit, termasuk Pemerintah. Sehingga Ibnu pun sering disebut sebagai presiden bayangan.


Namun pada saat yang sama, terjadilah pembusukan itu. Sehingga image Pertamina sebagai sarang korupsi mulai tumbuh dari era ini. Pertamina tidak perlu aktif berbisnis, semua datang ke Pertamina untuk berbisnis. Tidak ada satupun konglomerat Indonesia yang mulai tumbuh di tahun 1970-an hingga 1990-an, eranya Soeharto, yang tidak karena uang minyak Pertamina. Tetapi dari era inilah, BBM mulai disubsidi Pemerintah, yang sebenarnya merupakan politik Soeharto untuk membungkam masyarakat.

Zaman berubah, Soeharto jatuh, undang-undang pun berganti. Pertamina tunduk pada UU No. 22 tahun 2001. Peran Pertamina sebagai regulator diserahkan pada BP Migas (Badan Pelaksana Migas) di sektor hulu, yang embrionya adalah BPPKA, sebuah badan di dalam Pertamina untuk mengatur kontraktor production sharing (KPS). Sementara di sektor hilir, dibentuk BPH Migas (Badan Pengatur Hilir Migas). Dan Pertamina dikembalikan sebagai entitas bisnis yang harus mencari profit. Sebagai entitas bisnis, Pertamina juga tunduk pada UU tentang Perseroan Terbatas. Sehingga pada 2003, Pertamina pun berdiri sebagai badan hukum dengan nama PT Pertamina (Persero).

Namun, sebagai BUMN, Pertamina tetap harus mengemban tugas-tugas yang diberikan Pemerintah, yang dikenal sebagai public service obligation (PSO). Masyarakat mengenalnya sebagai BBM Bersubsidi, yaitu Premium, Kerosene (minyak tanah) dan Solar (boleh disingkat PKS tetapi bukan partai, atau PSK tetapi bukan pelacur). Dengan kata lain, tidak banyak yang berubah.

Posisi inilah yang tidak disadari masyarakat. Mereka terlena dengan jargon bahwa Indonesia negeri yang kaya, kaya sumber daya alam, kaya minyak dan gas. Tetapi mereka lupa bahwa jumlah penduduk bertambah lebih cepat, sementara jumlah produksi menurun lebih cepat lagi. (Dan jangan lupa, negeri yang kaya minyak dan gas, anehnya, terkena semacam kutukan. Pemerintahannya yang tidak demokratis, atau masyarakatnya menjadi malas dan tidak mau berpikir, atau jatuh miskin dan terlibat utang luar negeri yang besar)

Semua bisnis yang disubsidi, adalah bisnis yang tidak sehat. Itu dikatakan sendiri oleh Prof. Soebroto, mantan Menteri Pertambangan dan Energi yang flamboyant dengan dasi kupu-kupunya. Contohnya BBM yang bersubsidi, tarif listrik PLN, tarif ekonomi Kereta Api Indonesia, tarif Pelni, dll. Semua adalah bisnis yang tidak sehat secara ekonomis. Perusahaannya tidak sampai collapse atau ambruk, tetapi sering mengalami demam, meriang, batuk dan bersin.

Saya bisa mengerti, tidak sehat karena sebenarnya supply and demand yang riil seringkali tidak didapatkan, dengan berbagai alasan politis atau manipulasi. Ditambah berbagai penyimpangan di lapangan yang sulit dijangkau hukum, termasuk pengoplosan dan penyelundupan BBM ke luar negeri karena adanya disparitas harga. Inilah yang dimanfaatkan para petualang.

Misalnya contoh kasus konversi minyak tanah ke Elpiji 3 Kg. Target semula tahun 2014, maju menjadi 2012, maju lagi menjadi 2010, sampai akhirnya harus selesai tahun 2009 ini. Jelas target program yang dicanangkan Wapres Jusuf Kalla terlalu kental dengan nuansa politisnya. Akibatnya, percepatan pembangunan infrastruktur dan pasokan harus berlomba dengan target politis Sang Wapres memasuki gelanggang Pemilu dan Pilpres 2009.

Dalam beberapa kesempatan, seorang petinggi Pertamina mengatakan bahwa di Indonesia ini, tidak ada sektor kehidupan yang tidak lepas dari (produk) Pertamina, bahkan 24 jam. Mulai dari isi tanki mobil atau motor kita, pelumas yan dipakai, bahan bakar di dapur, lilin, plastik, aspal jalanan, dan masih banyak lagi, lebih dari 100-an, produk turunan yang berasal dari minyak dan gas bumi.

Pertamina berbisnis di bisnis minyak dan gas bumi. Banyak pihak yang ingin menikmati uang hasil minyak ini. Mulai dari anak-anak Presiden Soeharto, kroninya, pensiunan jenderal-jenderal, orang-orang partai politik. Dalam suatu kesempatan wawancara dengan Prof. Dr. Bambang Permadi S. Brodjonegero, Dekan FE-UI saat ini, berkaitan dengan Seminar Mafia Minyak di UI, menyebutkan begitu banyak orang yang tertarik dengan uang minyak ini dan bermain di belakang layar.

Dalam hal PSO, Pemerintah memberikan tugas pada Pertamina, dan Pertamina tidak pernah bisa menolaknya. Ketika terjadi suatu krisis, Pemerintah tidak pernah membela Pertamina, dan Pertamina pun tidak bisa menyalahkan Pemerintah. Karena hitungan bisnis yang riil tidak selalu matching dengan perhitungan politis yang selalu berubah-ubah setiap saat.

Di tengah Pertamina yang terus disorot karena stigma beban warisan KKN yang dipikulnya dan upaya transformasi yang tengah dilakukan, ada sisi lain yang gelap, yang luput dari sorotan masyarakat. Apapun upaya Pertamina memperbaiki citranya, selalu ada cap negatif yang siap ditembakkan bila terjadi sesuatu dengan Pertamina. Dan setelah itu, berbagai isu dan teori muncul beredar, seperti yang bisa kita baca di media massa atau kita dengar dari media elektronik.

Ditambah ini adalah tahun politik, dimana Pemilu dan Pilpres akan digelar. Partai-partai butuh uang banyak untuk kampanye politiknya. Maka jangan heran kalau posisi direksi Pertamina digoyang, yang sebenarnya dibelakang itu adalah pertarungan partai-partai politik untuk menempatkan orangnya. *** (UHK, 19 – 30 Januari 2009)

Labels:

Tuesday, January 20, 2009

Pertamina dan Stigma

PERTAMINA DAN STIGMA

Stigma, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, diartikan (1) ciri negatif yg menempel pd pribadi seseorang krn pengaruh lingkungannya; (2) tanda.

Keluarga tapol yang terkait Peristiwa G.30.S/PKI terkena stigma ‘kiri’. Aktivis Petisi 50 terkena stigma ‘pembangkang’. Megawati terkena stigma ‘pendiam’. Amien Rais punya stigma ‘plin-plan’. Tim nasional PSSI tidak bisa lepas dari stigma ‘kalah melulu’. Dan lain-lain. Termasuk BUMN terkena stigma ‘kinerjanya buruk’. Di sini, stigma menjadi semacam kutukan yang diterima turun-temurun, dari generasi ke generasi. Dan sulit untuk menolak atau menghindarinya, apalagi menghapusnya. Mungkin sampai terbawa ke dalam mimpi.

Minggu malam, 18 Januari 2009 sekitar pukul 21.30, Depot Plumpang di Jakarta Utara, milik Pertamina, meledak dan mengakibatkan kebakaran dahsyat sepanjang malam. Ketinggian api sampai 100 meter, bisa dilihat dari jarak 20 Km dari lokasi, sementara suasana panas karena kobaran api terasa sampai sejauh sekitar 1 Km dari pusat api.

Sebelumnya, kita hiruk pikuk dengan kasus minyak Zatapi. Belum sampai sebulan yang lalu, kita dipusingkan dengan (berita-berita) ‘hilangnya’ Elpiji (LPG) dari pasaran selama beberapa hari. Baru pulih dari demam LPG, disusul dengan krisis BBM di sekitar pergantian tahun 2008 menuju 2009. Krisis BBM reda, lalu tiba-tiba muncul kasus ledakan Depot Plumpang.

Ada apa dengan Pertamina? Kenapa segala sesuatu yang terjadi di BUMN itu selalu menarik perhatian orang?

Pertamina tentu saja baik-baik. Hehehe… Yang tidak baik adalah orang yang selalu ingin campur tangan urusan intern Pertamina, atau selalu mencari keuntungan dari semua persoalan yang dihadapi Pertamina.

Dalam banyak hal yang berkaitan dengan energi minyak dan gas bumi di negara ini, Pertamina selalu berada dalam keadaan serba salah. Hal ini bisa terjadi karena tidak banyak yang menyadari posisi hukum Pertamina.

Pertamina, yang didirikan pada 10 Desember 1957, pernah berkembang menjadi konglomerasi BUMN pertama di Indonesia, dibawah Ibnu Sutowo sampai kejatuhannya tahun 1975 karena terbelit skandal keuangan ratusan juta dollar tahun itu. Pertamina saat itu, sesuai dengan UU No. 8 tahun 1971 tentang Migas (ini satu-satunya undang-undang tentang badan usaha milik negara) mengemban dua tugas utama. Pertama, Pertamina sebagai regulator dimana semua kontraktor production sharing (KPS) tunduk pada Pertamina. Dan kedua, Pertamina sebagai player. Namun di era ini, peran Pertamina sebagai regulator yang lebih menonjol. Bahkan di tahun 1980-an, selama beberapa tahun APBN Indonesia ditulangpunggungi hasil dari ekspor minyak dan gas bumi. Tidak salah, karena saat itu produksi minyak Indonesia sedang top mendekati 2 juta barrel dengan jumlah penduduk masih di sekitar angkat 130 – 140 juta jiwa.

Inilah yang membuat orang melihat Pertamina dilihat sebagai agent of governement, tidak lebih dari kepanjangan tangan Pemerintah. Pertamina masuk ke semua sektor, seperti perhotelan, perumahan, pertanian, pupuk, penerbangan, dan lain-lain. Semua datang ke Pertamina untuk minta duit, termasuk Pemerintah. Sehingga Ibnu pun sering disebut sebagai presiden bayangan.


Namun pada saat yang sama, terjadilah pembusukan itu. Sehingga image Pertamina sebagai sarang korupsi mulai tumbuh dari era ini. Pertamina tidak perlu aktif berbisnis, semua datang ke Pertamina untuk berbisnis. Tidak ada satupun konglomerat Indonesia yang mulai tumbuh di tahun 1970-an hingga 1990-an, eranya Soeharto, yang tidak karena uang minyak Pertamina. Tetapi dari era inilah, BBM mulai disubsidi Pemerintah, yang sebenarnya merupakan politik Soeharto untuk membungkam masyarakat.

Zaman berubah, Soeharto jatuh, undang-undang pun berganti. Pertamina tunduk pada UU No. 22 tahun 2001. Peran Pertamina sebagai regulator diserahkan pada BP Migas (Badan Pelaksana Migas) di sektor hulu, yang embrionya adalah BPPKA, sebuah badan di dalam Pertamina. Sementara di sektor hilir, dibentuk BPH Migas (Badan Pengatur Hilir Migas). Dan Pertamina dikembalikan sebagai entitas bisnis yang harus mencari profit. Sebagai entitas bisnis, Pertamina juga tunduk pada UU tentang Perseroan Terbatas. Sehingga pada 1993, Pertamina pun berdiri sebagai badan hukum dengan nama PT Pertamina (Persero).

Namun, sebagai BUMN, Pertamina tetap harus mengemban tugas-tugas yang diberikan Pemerintah, yang dikenal sebagai public service obligation (PSO). Masyarakat mengenalnya sebagai BBM Bersubsidi. Dengan kata lain, tidak banyak yang berubah.

Posisi inilah yang tidak disadari masyarakat. Mereka terlena dengan jargon bahwa Indonesia negeri yang kaya, kaya sumber daya alam, kaya minyak dan gas. Tetapi mereka lupa bahwa jumlah penduduk bertambah lebih cepat, sementara jumlah produksi menurun lebih cepat lagi. (Dan jangan lupa, negeri yang kaya minyak dan gas, anehnya, terkena semacam kutukan. Pemerintahannya yang tidak demokratis, atau masyarakatnya menjadi malas dan tidak mau berpikir.)

Semua bisnis yang disubsidi, adalah bisnis yang tidak sehat. Itu dikatakan oleh Prof. Soebroto, mantan Menteri Pertambangan dan Energi yang flamboyant dengan dasi kupu-kupunya. Contohnya BBM yang bersubsidi, listrik PLN, tarif ekonomi Kereta Api Indonesia, tarif Pelni, dll. Semua bisnis yang tidak sehat secara ekonomis.

Saya bisa mengerti, tidak sehat karena sebenarnya supply and demand yang riil seringkali tidak didapatkan, dengan berbagai alasan politis atau manipulasi. Ditambah berbagai penyimpangan di lapangan yang sulit dijangkau hukum, termasuk pengoplosan dan penyelundupan BBM ke luar negeri karena adanya disparitas harga. Inilah yang dimanfaatkan para petualang.

Misalnya contoh kasus konversi minyak tanah ke Elpiji 3 Kg. Target semula tahun 2014, maju menjadi 2012, maju lagi menjadi 2010, sampai akhirnya 2009. Jelas target program yang dicanangkan Wapres Jusuf Kalla terlalu kental dengan nuansa politisnya. Akibatnya, percepatan pembangunan infrastruktur dan pasokan harus berlomba dengan target politis Sang Wapres memasuki gelanggang Pemilu dan Pilpres 2009.

Dalam beberapa kesempatan, seorang petinggi Pertamina mengatakan bahwa di Indonesia ini, tidak ada sector kehidupan yang tidak lepas dari (produk) Pertamina, bahkan 24 jam. Mulai dari isi tanki mobil atau motor kita, pelumas yan dipakai, bahan bakar di dapur, lilin, plastik, aspal jalanan, dan masih banyak lagi, lebih dari 100-an, produk turunan yang berasal dari minyak dan gas bumi.

Pertamina berbisnis di bisnis minyak dan gas bumi. Banyak pihak yang ingin menikmati uang hasil minyak ini. Mulai dari anak-anak Presiden Soeharto, kroninya, pensiunan jenderal-jenderal, orang-orang partai politik. Dalam suatu kesempatan wawancara dengan Prof. Dr. Bambang Permadi S. Brodjonegero, Dekan FE-UI saat ini, berkaitan dengan Seminar Mafia Minyak di UI, menyebutkan begitu banyak orang yang tertarik dengan uang minyak ini dan bermain di belakang layar.

Dalam hal PSO, Pemerintah memberikan tugas pada Pertamina, dan Pertamina tidak pernah bisa menolaknya. Ketika terjadi suatu krisis, Pemerintah tidak pernah membela Pertamina, dan Pertamina pun tidak bisa menyalahkan Pemerintah. Karena hitungan bisnis yang riil tidak selalu matching dengan perhitungan politis yang selalu berubah-ubah setiap saat.

Di tengah Pertamina yang terus disorot karena stigma beban warisan KKN yang dipikulnya dan upaya transformasi yang tengah dilakukan, ada sisi lain yang gelap, yang luput dari sorotan masyarakat. Apapun upaya Pertamina memperbaiki citranya, selalu ada cap negatif yang siap ditembakkan bila terjadi sesuatu dengan Pertamina. Dan setelah itu, berbagai isu dan teori muncul beredar, seperti yang bisa kita baca di media massa atau kita dengar dari media elektronik. *** (UHK, 19 – 20 Januari 2009)

Labels:

Tuesday, January 13, 2009

Pidato, Tangan, Sampah

PIDATO, TANGAN, SAMPAH

Tahun 2009 ini adalah tahun pemilu dan tahun pilpres. Jadi kita akan banyak melihat para politisi berpidato menjual kecapnya dalam kampanye untuk meraih suara sebanyak-banyaknya. Tetapi apa sih, pidato itu?

Pidato, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga (tetapi kayaknya bajakan neeh… - Pen.), berarti : (1) pengungkapan pikiran dl bentuk kata-kata yg ditujukan kpd orang banyak; (2) wacana yg disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak.

Melihat arti tersebut, seseorang harus bisa merumuskan pemikirannya, baik lisan maupun tertulis, yang akan disampaikan kepada orang banyak. Sementara arti kedua lebih kepada tema apa yang mau disampaikan. Intinya, orang tersebut harus bicara tentang sesuatu hal (atau banyak hal).

Di instansi pemerintahan, pidato dan berbagai variannya seperti sambutan atau pengarahan, adalah hal yang biasa dan membosankan karena terlalu sering. Bahkan sebagian yang mendengarnya sampai tertidur. Ingat saja sewaktu Presiden SBY berpidato dalam sebuah acara di Lemhanas, tahun 2008 kemarin. Ada beberapa peserta, yang notabene adalah para kepala daerah, tertidur dan membuat murka Presiden. “Hey, bangun!” kata Presiden sambil menunjuk-nunjuk.

Kalau mendengar langsung memang bisa bikin kita tidur, tetapi kalau hanya melihat dari siaran televisi, mungkin bisa muntah. Soal pidato yang bikin muntah, tunggu sampai tulisan ini selesai ya…

Indonesia pernah punya jagoan pidato ulung. Soekarno. Dengan uniform militernya yang khas, kacamata hitam, peci dan tongkat, ia berpidato menyihir orang banyak. Bapak dan ibu saya dulu sering menceritakan bagaimana kalau Soekarno berpidato. Foto-fotonya memperlihatkan gaya pidatonya, dengan tangan kanan yang terangkat ke atas.

Gaya ini pula yang coba diikuti anaknya, Megawati. Mega selalu berpidato dengan gaya yang mendekati bapaknya, tangan terangkat ke atas, menunjuk langit. Ia pun sering difoto dengan latarbelakang foto bapaknya. Saya pikir mungkin Mega kurang percaya diri. Jadi dia perlu back up dari bapaknya, biarpun hanya foto saja.

Bung Tomo juga harus disebut sebagai jagoan pidato. Pidatonya pada peritiwa 10 November 1945, membakar hati pemuda-pemuda Surabaya (dan Jawa Timur) untuk bertempur melawan Inggris dan NICA. Fotonya juga hampir serupa dengan Soekarno. Diambil dari bawah, tangannya menentang langit.

Sedikit ke luar negeri, ada nama Fidel Castro, yang pernah lama memimpin Kuba. Tidak jelas, apakah dia jago pidato atau tidak, tetapi dia bisa berpidato sampai berjam-jam. Saya pernah membaca berita pndek tentang Castro yang pidato sampai 6 jam! Kalau saya di Kuba sana, saya bisa ditahan polisi rahasia, karena bolak-balik ke toilet setiap jamnya. Tuduhannya? Subversif. Tidak menghargai boss yang sedang berpidato.

Balik ke Indonesia lagi. Sugiharto, orang PPP yang pernah menjabat Menteri Negara BUMN, berpidato di acara BUMN Executive Club. Dalam tempo setengah jam, ia sudah akan selesai dan pamitan. Tahu-tahu, ia bercerita tentang perjalanan dengan Presiden ke Timur Tengah. Ujung-ujungnya, ia berpidato 2,5 jam, padahal sudah sempat pamitan sampai tiga kali. Gila.

Ada juga pidato yang bikin saya mau muntah. Pidatonya politisi Golkar yang punya stasiun televisi berita, Surya Paloh. Pidato dan penampilannya selalu mendapat porsi lebih panjang dari yang lain-lain, ketika disiarkan. Dia bisa dibiarkan sampai sepuluh menit, bahkan lebih. Maklum, televisi sendiri, boss! Dimulai dari tangannya yang terangkat ke atas, hingga tangannya sudah menuding ke bawah. Mungkin capai karena staminanya tidak mendukung.

Tidak apa-apa. Surya Paloh hanya mencontoh saja dari Harmoko, Ketua Umum Golkar yang adalah juara pidato tanpa tanding tanpa banding di era Orde Baru. Dia selalu berpidato dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam Safari Ramadhan, atau juga berbicara pada wartawan selaku Menteri Penerangan yang adalah juru bicara Pemerintah. Rambutnya yang tebal, kaku dan licin, karena memakai minyak rambut satu tube penuh. Saking licin rambutnya, namanya pun kepeleset menjadi Hari-hari Omong Kosong.

Itu baru gaya pidatonya saja, belum wacananya. Bagaimana dengan tema atau topik yang dibicarakan?

Tentu ada pidato-pidato yang bagus dan tercatat dalam sejarah karena sangat monumental, biasanya menjadi milestone sebuah zaman. Tetapi saat ini tidak banyak pidato yang bagus seperti itu. Kecuali pidato kenegaraan di depan DPR yang memuat angka-angka APBN, menurut saya, pidato atau apapun juga namanya, hanyalah basa-basi dan puja-puji yang penuh penjilatan. Kalau masih mau bilang bagus, mungkin hanya bagus pada 10 sampai 15 menit pertama. Selebihnya cuma jualan kecap nomor satu yang mereknya Sampah. *** (UHK, 9 – 14 Januari 2009)

Labels:

Wednesday, January 07, 2009

Melihat Peta, Meramal Nasib

MELIHAT PETA, MERAMAL NASIB

Masih di sekitar tahun baru yang belum terlalu jauh, mungkin kita masih sempat merefleksikan diri kita setahun yang baru lewat dan setahun yang akan datang. Belum terlambat, karena walau tahun baru Islam dan tahun baru Masehi – dalam satu minggu yang sama di akhir tahun 2008 - baru lewat, masih ada tahun baru Imlek di depan mata.

Saya mau pergi ke sebuah kota, katakanlah Jogja, dan saya memilih naik kereta api. Makanya saya ingin tahu, lewat kota mana sajakah kereta yang saya naiki. Karena itu saya pun membuka peta. Setelah saya lihat, o, mungkin saya akan lewat Cirebon, Tegal, Purwokerto dan seterusnya ke selatan hingga akhirnya tiba di Jogja. Demikian saya membuat perkiraan perjalanan itu.

Begitu juga Anda kalau hendak bepergian jauh ke luar kota, ke luar pulau Jawa, atau ke luar negeri. Mungkin Anda akan melihat peta untuk melihat kota atau negeri tujuan, dan akan singgah dimana saja selama perjalanan itu. Bisa juga Anda tidak ingin melihat peta, tetapi saya yakin, Anda pasti ingin tahu lewat mana saja perjalanan Anda itu, entah bagaimana caranya.

Itu hal yang wajar, bahwa saya, Anda, dan kita semua selalu ingin tahu apa yang ada di depan kita di dalam perjalanan, sebagai suatu persiapan. Demikian pula kehidupan, sebagai suatu perjalanan. Orang ingin tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupannya, di masa depan yang dekat, dan di masa depan yang jauh.

Kita mungkin pernah bertanya-tanya, seperti apa kita setahun yang akan datang, sepuluh tahun berikutnya, atau dua puluh lima tahun ke depan. Apakah hidup kita akan berbahagia? Atau malah susah terus-menerus? Apakah kita akan menikah sekali, atau berkali-kali? Atau mungkin malah tidak menikah sama sekali? Bagaimana dengan kesehatan kita? Apakah akan ada sakit yang berat? Keuangan kita? Anak-anak kita? Dan lain sebagainya.

Keingintahuan itu yang lalu mendorong kita untuk mencari tahu apa yang akan terjadi dengan hidup kita di masa depan. Melihat nasib dan peruntungan diri kita.

Ada banyak bidang keahlian yang katanya bisa membaca masa depan. Palmistri, astrologi, pembacaan kartu-kartu seperti tarot, remi, dll, pembacaan bola kristal, pembacaan ampas teh atau kopi, membaca asap, membaca awan, dan masih banyak lagi metode.

Untuk urusana yang satu ini, ternyata semua agama, apakah agama langit maupun agama bumi, kompak seia sekata. Sama-sama melarang, menentang dan tidak menyetujui peramalan nasib. Namun dasar namanya juga manusia, ada bagian dari otaknya yang korsluiting, sehingga sering salah membaca atau tidak menangkap apa yang dibacanya. Biasanya apa yang dilarang atau tidak disetujui, justru dilanggar dan diterjang.

Jadi, orang-orang tetap ada yang pergi mencari ahli peramalan nasib. Ada yang terang-terangan, tetapi mungkin lebih banyak yang diam-diam. Ssst…saya juga lho, tetapi saya tidak kemana-mana, saya hanya main-main dengn pendulum saya sendiri. Tanya-tanya sendiri, bikin prediksi, dan senyum sendiri. Juga ada kecutnya.

Kenapa agama melarang kita untuk melihat nasib? Entahlah, tetapi mungkin karena kita secara psikologis, sebenarnya tidak pernah benar-benar siap menerima kenyataan (negatif atau buruk) yang datang. Kita hanya mau yang baik-baik saja, tidak mau melihat yang buruk. Memang ada benarnya seperti itu. Namun jika hasil ramalan negatif, kebanyakan orang shock, terkejut, tidak bisa tidur berhari-hari dan bahkan sakit keras (misalnya stroke) karena memikirkannya.

Saya pernah mencoba menghitung usia saya dengan suatu metode palmistry tertentu. Dan saya benar-benar shock mengetahui hasilnya. Selama seminggu saya sulit tidur dan tidak nafsu makan. Barulah setelah saya shalat dan meditasi, saya mulai bisa ‘melupakan’ ramalan diri sendiri itu. Entah kalau nanti tiba waktunya. . Bukankah umur di tangan Tuhan? Hehehe... Eh, tangan kanan atau tangan kiri-Nya ya? Hahaha… *** (UHK, 7 Januari 2009)

Labels:

Sunday, December 21, 2008

Before Sunset, Before Sunrise dan Soulmate

BEFORE SUNSET, BEFORE SUNRISE DAN SOULMATE

Saya sebenarnya bukanlah pencandu film, tetapi setiap menjelang Hari Natal dan Tahun Baru, saya suka menyetel TV dan menungguin film-film drama yang bagus., yang diputar dinihari. Mungkin tentang Natal, atau Tahun Baru, biasanya percintaan.

Dinihari tadi, Senin (22/12) pukul 02.00, di stasiun Trans TV saya mendapatkan film Before Sunset yang dibintangi Julie Delphy (sebagai Celine) dan Ethan Hawke (sebagai Jesse). Memang sudah agak lambat masuknya, tetapi masih dapat ceritanya. Jesse, seorang penulis muda Amerika , melaunching bukunya di sebuah toko buku di Paris. Dan ia pun bertemu kembali dengan seorang wanita yang dikenalnya setahun lalu, di kereta Paris – Wina. Namanya Celine.

Mereka keluar dari toko buku, berjalan-jalan menyusuri lorong-lorong kota Paris yang eksotis. Pertanyaan dari Celine pada Jesse adalah,”Apakah enam bulan yang lalu, kau jadi ke Wina?” Pertanyaan itu dijawab tidak oleh Jesse, namun belakangan diakui olehnya bahwa enam bulan yang lalu ia memang datang ke Wina dengan harapan bisa bertemu kembali dengan Celine.

Sedikit mundur, akhir tahun 2006, saya ingat menonton sebuah film di stasiun TV7 dengan judul Before Sunrise, yang dibintangi Ethan Hawke dan Julie Delphy ini. Kisahnya tentang seorang pemuda Amerika, Jesse, yang naik kereta dari Paris menuju Wina, tanpa tujuan tertentu, hanya sekadar jalan-jalan saja. Di kereta, ia bertemu dengan Celine, wanita Perancis. Mereka lalu menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan menyusuri lorong-lorong kota Wina malam hari, termasuk hubungan cinta semalam. Mereka bertemu dengan penyair jalanan yang mencari nafkah dari menulis puisi untuk orang-orang yang ditemuinya di tepi sungai. Dan setelah itu, mereka berjanji untuk bertemu kembali enam bulan kemudian, di Wina. Mereka tidak meninggalkan alamat dan nomor telepon, kecuali sebuah keinginan untuk bertemu kembali.

Kembali ke film Before Sunset. Mereka jalan-jalan di kota Paris, singgah di kafe kesukaan Celine, menyusuri Sungai Seine yang membelah Paris, melihat Notre Dame dan akhirnya tiba di apartemen Celine di salah satu sudut kota tua Paris.

Di dalam apartemen, Celine membuatkan Jesse teh campur madu. Lalu memperdengarkan sebuah lagu berirama waltz yang ditulis setahun lalu setelah bertemu seorang pria. Celine lalu sekali lagi mengingatkan Jesse untuk segera ke airport, karena ia bisa ketinggalan pesawat meuju New York. Apa jawaban Jesse?

Nanti dulu soal jawaban Jesse itu. Saya tidak ingin bicara tentang alur cerita dan acting mereka, saya lebih ingin bicara tentang aspek hubungan mereka.

Sering kita bertemu dengan seseorang yang baru sama sekali. Pria bertemu wanita, wanita bertemu pria, atau bahkan sesama jenis. Soal usia bisa dikesampingkan. Apalagi soal apakah mereka menikah atau tidak menikah, atau belum menikah, juga abaikan saja. Mungkin itu di kota kita sendiri, atau di kota yang kita kunjungi. Kita berbicara satu sama lain, berusaha menarik perhatian lawan bicara kita dan berusaha untuk mendengarkan apa yang ia katakan.

Ada pepatah yang pernah saya baca, ketika pria bertemu wanita, yang dipikirkan hanyalah seks saja. Dan wanita berpikir tentang cinta. Mungkin ada benarnya. Yang pria ingin menikmati waktu yang singkat dengan bercinta dan selesai, sementara yang wanita ingin bercinta untuk mendapatkan si pria selamanya.

Cerita akan semakin menarik ketika kita juga bicara tentang pasangan kita. Jesse sudah menikah dengan seorang guru SD di New York dan memiliki seorang putra usia empat tahun. Celine lajang yang belum menikah, walau jam terbangnya dalam cinta sudah tinggi. Tetapi keduanya menikmati pertemuan mereka.

Hubungan suami – istri, dalam pandangan saya, tidak selalu berjodoh atau sejodoh. Ketika dalam proses pendekatan dan percintaan, semua terasa indah dan oke. Tetapi setelah menikah, mungkin baru ketahuan ketidak cocokan satu sama lain. Apalagi bersamaan dengan berlalunya waktu, maka hubungan pun menjadi dingin dan kehilangan bara apinya. Yang satu merasa asing dengan yang lainnya, dan semua dilakukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai suami istri saja. Tidak lebih, tidak kurang.

Tentu ini cerita yang bisa terjadi dimana saja, denan siapa saja, walau mungkin terlalu didramatisir.

Dan suasana berubah ketika kita bertemu dengan orang lain. Di suatu tempat, di suatu waktu, di suatu acara, di suatu kelompok atau komunitas. Atau mungkin di kereta, seperti yang saya sering alami. Ada pertemuan yang berlanjut karena memang ada kecocokan diantara para pelaku, tetapi ada juga yang berhenti sampai di situ saja. Selesai.

Soulmate atau jodoh, atau belahan jiwa, saya lihat tidak harus selalu suami dan istri. Dia bisa siapa saja, teman yang baru kita kenal, teman lama yang selalu kita ingat, teman kantor, teman di lingkungan kita tinggal, atau teman dimanapun juga kita merasa cocok satu sama lain dengan orang itu.

Jadi singkatnya, suami dan istri tidak selalu jodoh, jodoh tidak selalu menjadi suami istri. Jodoh bisa saja sesama pria atau sesama wanita, dengan saudara pun bisa. Singkatnya, dengan siapa pun kita bisa berbagi cerita dan perasaan. Bisa dekat secara emosional dan spiritual.

Ah, panjang sekali teori saya tentang perjodohan ini ya…

O, ya, ketika Celine mengingatkan Jesse bahwa ia akan ketinggalan pesawat, apa jawaban Jesse? Jesse bilang ia tahu akan ketinggalan pesawat. Ia memilih untuk ketinggalan pesawat. Film pun selesai. So? ML-kah mereka?

Sebagai pemanis, anggap saja mereka memang menghabiskan malam bersama-sama. Kita pun lebih senang dengan ending yang bahagia, kan? Hehehe… *** (UHK, 22 Desember 2008)

Labels:

Friday, December 19, 2008

Latihan Anti-Teror

LATIHAN ANTI-TEROR

Sejak serangan terorisme bulan November lalu ke Mumbai, India, demam terorisme, tepatnya anti-teror, merebak ke seluruh dunia. Hampir setiap hari saya membaca berita, attau menonton siaran berita di televisi, tentang simulasi latihan anti-teror di berbagai kota, misalnya minggu lalu latihan di Makassar. Tentu latihan ini selalu melibatkan unit-unit anti-teror milik TNI dan Polri, serta berbagai instansi pemerintah. Termasuk hari ini, Jumat (19/12), di Kantor Pusat Pertamina. Latihan melibatkan pasukan Yon 323/Raider Kostrad.

Skenarionya, teroris menyerbu Kantor Pusat Pertamina dan menguasai Lantai 2 dan Lantai 8, dan menyandera beberapa orang. Kostrad kemudian mengirimkan pasukan anti-terornya dari unit Yon 323/Raider untuk mengatasi teroris. Pasukan diterjunkan dari dari heli dan mendarat di puncak, turun melalui tangga ke lantai 8. Sementara pada saat yang sama dari bawah juga pasukan juga bergerak. Gerak cepat pasukan Kostrad akhirnya dapat mematahkan teroris tidak kurang dari 20 menit saja, sekalian mengevakuasi para sandera.

Begitu cepat? Ya, jelas cepat. Pertama, karena memang skenarionya begitu. Harus cepat, sesuai dengan predikatnya pasukan anti-teror, harus lebih cepat dari para teroris. Yang kedua, nanti saya kasih tahu di bagian bawah esai ini.

Ngomong-ngomong, apa sih terorisme itu? Saya menemukan jawabannya dari wikipedia. Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.

Masih dari wikipedia, istilah ‘teroris’ oleh para ahli kontra-terorisme dikatakan merujuk kepada para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal, atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serangan-serangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memeiliki justifikasi, dan oleh karena itu para pelakunya (teroris) layak mendapatkan pembalasan yang kejam.

Akibat makna-makna negatif negatif yang dikandung oleh perkataan ‘teroris’ dan ‘terorisme’, para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, pasukan perang salib, militan, mujahidin, dan lain-lain. Adapun makna sebenarnya dari jihad, mujahidin adalah jauh dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang. Terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama.

Demikian kata wikipedia tentang terorisme.

Saya sendiri termasuk suka dan senang mengikuti berita dan cerita tentang terorisme dan kontra-terorisme sejak masih duduk di SD tahun 1970-an akhir. Selalu ada cerita-cerita dibalik layar tentang perburuan teroris yang menegangkan. Saya ingat, tahun 1978, saya mulai mengenal kisah-kisah terorisme, misalnya Black September, Brigade Merah Italia, kelompok Baader Mainhoff Jerman, dan Tentara Merah Jepang. Dan yang paling terkenal adalah teroris Carlos beserta gerombolannya, yang di negara asalnya dikenal sebagai dermawan. Carlos terkenal karena menyerbu markas OPEC di Wina, Austria.

Teroris generasi pertama biasanya selalu melakukan pembajakan pesawat, gedung, atau obyek apa saja yang diam. Mungkin anda ingat dengan Kedutaan Besar RI di Belanda yang pernah dibajak oleh aktivis-aktivis RMS tahun 1970-an?

Tetapi perubahan kemudian terjadi. Para teroris tidak lagi hanya melakukan pembajakan, tetapi banyak yang melakukan dengan cara serangan bunuh diri. Yang paling terkenal, anda pasti masih ingat, serangan terhadap menara kembar WTC New York pada 11 September 2001.

Indonesia pun akhirnya masuk dalam peta perang melawan terorisme, setelah serangan bom bunuh diri dengan sasaran-saran sipil seperti gereja-gereja di Jakarta, kafe-kafe di Bali, Hotel JW Marriot Jakarta dan juga Kedutaan Australia di Jakarta. Tentu cerita akan lebih panjang lagi, tetapi nanti saja lain waktu, kalau momentnya pas.

Eh, ya, lalu anda ingin tahu alasan kedua kenapa latihan anti-teror yang sudah disebutkan di atas bisa begitu cepat, hanya dalam waktu 20 menit? Ya, karena markas Kostrad dengan Kantor Pertamina bertetangga, bersebelahan, di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta. Jadi ibarataanya, pasukannya tinggal loncat pagar saja. Makanya cepat. Hahaha… *** (UHK, 19 Desember 2008)

Labels:

Thursday, December 18, 2008

Prestasi Menukik, Manajer Ditendang

PRESTASI MENUKIK, MANAJER DITENDANG

Keras dan kejamnya sepakbola profesional liga-liga Eropa kembali memakan korban. Dan seperti yang sudah diduga, korbannya adalah manajer tim. Kali ini Paul Ince dipecat oleh manajemen Blackburn Rovers Selasa kemarin, setelah bertugas hanya 6 bulan saja sementara Blackburn Rovers terdampar di peringkat 19 klasemen sementara Liga Premier Inggris.

Dunia sepakbola profesional (Eropa) memang telah berubah drastic dan menjadi kejam, sejak klub menjadi dilihat sebagai sebuah entitas bisnis yang diharapkan mendatangkan keuntungan. Klub-klub liga-liga Inggris, Spanyol, Italia, dan Jerman mempunyai trend yang sama. Untuk klub-klub besar seperti Real Madrid, Barcelona, Bayern Muenchen, Chelsea, Manchester United, Inter Milan, Juventus, dll. prestasi diukur dari raihan gelar dan piala di akhir musim. Gagal atau tanpa gelar, maka pintu keluar terbuka untuk sang manajer atau pelatih. Bahkan pelatih sekaliber Vicente del Bosque dan Fabio Capello yang memberikan gelar untuk Madrid pun, ditendang. Ingat saja Roberto Mancini yang ditendang Inter Milan musim lalu, padahal ia memberikan gelar scudetto. Apalagi jika tanpa gelar dan piala di akhir musim. Silakan angkat kaki.

Untuk beberapa klub lainnya, mungkin sulit untuk bicara gelar atau piala. Mereka hanya memasang target untuk finish di zona Eropa yang akan mengantarkan mereka lolos ke Piala UEFA. Atau jika pun tidak bisa masuk ke zona itu, ya setinggi-tingginya di klasemen akhir kompetisi liga.

Namun hampir semua klub, tak peduli klub besar atau kecil, pasti akan resah jika klubnya terus menerus menderita kekalahan beruntun dan masuk zona degradasi. Pemecahan yang paling cepat adalah memecat manajer atau pelatihnya. Tidak ada klub yang memecat pemain untuk sebuah kegagalan.

Musim ini saja, di Liga Inggris kita bisa lihat beberapa manajer yang mundur atau dipecat. Kevin Keegan (mundur dari Newcastle United), Juande Ramos (dipecat Tottenham Hotspur), Alan Curbishley (dipecat West Ham), Roy Keane (mundur dari Sunderland), Harry Redknapp (mundur dari Portsmouth, lalu masuk ke Tottenham), dan terakhir Paul Ince.

Sementara di liga Spanyol, yang paling heboh tentu ketika Bernd Schuster dipecat untuk kemudian digantikan oleh Juande Ramos yang sebelumnya ditendang Tottenham. Masih ada beberapa klub lain di berbagai liga, termasuk Markus Babbel yang menggantikan Armin Veh di VfB Stuttgart.

Ada manajer atau pelatih yang ditendang atau dipecat, tetapi dunia sepakbola tidak akan kekurangan peminat yang ingin mengisi posisi tersebut. Banyak manajer atau pelatih yang mengganggur, menunggu rekan mereka jatuh dan tergusur dari klubnya. Mereka pun siap menggantikannya. Atau manajer dan pelatih muda yang naik. Mereka semua sangat sadar betul risiko pekerjaan mereka dan apa yang dipertaruhkannya dalam bisnis yang hasilnya bisa dilihat dan dihitung setiap minggu. Menang, seri atau kalah, dan ada di peringkat berapa pada klasemen.

Anehnya, manajer atau pelatih yang sukses biasanya bukanlah mantan pemain top pada zamannya. Mereka cuma pemain yang biasa-biasa saja, bahkan nyaris tidak terdengar apalagi diingat. Siapa yang kenal Alex Ferguson di masa ia bermain? Arsene Wenger? Arrigo Sacchi? Jose Mourinho? Mungkin tidak banyak. Bandingkan dengan Alfredo di Stefano, Johan Cruyff, Franz Beckenbauer, Kevin Keegan, Kenny Dalglish. Mereka adalah pemain-pemain hebat pada masanya. Tetapi sebagai manajer, nama bukanlah jaminan akan kesuksesan. Banyak mantan pemain top yang jadi manajer atau pelatih, dan hasilnya gagal.

Namun hampir semua manajer atau pelatih, sebenarnya menginginkan dukungan yang solid dari pihak manajemen dan supporter klub. Dan mereka membutuhkan waktu yang cukup dalam membangun timnya. Tidak semua manajer atau pelatih bertangan Midas, selalu sukses pada tahun pertama. Dan tidak semua manajer atau pelatih dibekali uang yang banyak untuk membeli pemain yang diinginkannya. Jose Mourinho bisa sukses berkat dukungan dana yang kuat dari Roman Abramovich dan pemain-pemain terbaik di setiap lini. Tetapi lihat, Alex Ferguson baru sukses tahun 1992, setelah memegang MU sejak 1986. Dan Arsene Wenger sukses pada tahun keduanya setelah menangani Arsenal sejak 1996.

David Moyes yang menangani Everton mengemukan kecemburuannya. Katanya tidak banyak manajer atau pelatih yang punya kesempatan untuk bertahan hingga bertahun-tahun di sebuah klub. Yang ada, mereka dituntut untuk memberikan hasil instant, dan bisa dipecat setiap saat kapan saja bila prestasi klub mereka menukik. *** (UHK, 18 Desember 2008)

Labels:

Thursday, December 11, 2008

Dari Krisis Keuangan Global Menuju Krisis Seksual Rumah Tangga

DARI KRISIS KEUANGAN GLOBAL MENUJU KRISIS SEKSUAL RUMAH TANGGA

Krisis keuangan global yang melanda seluruh dunia bagai tsunami, kita semua sudah tahu. Dimulai dari macetnya krisis pemilikan rumah di Amerika (subprime mortgage), kemudian menyeret banyak perusahaan-perusahaan jasa keuangan mulai dari perbankan, asuransi, perusahaan investasi dan lain-lain. Letusan terbesarnya ditandai dengan pennyataan bangkrutnya Lehman Brothers, September 2008 kemarin.

Lalu apa hubungannya dengan krisis seksual?

Ah, ini saya cuma mengambil omongan seorang teman di kantor. “Yang lain lagi krisis keuangan, ini kok krisis seksual!” katanya meledek seorang teman yang lain.

Tentu waktu pertama kali saya mendengarnya, saya seperti teman-teman kantor lainnya, juga ikutan tertawa. Karena memang dilontarkan dalam suasan bercanda. Tetapi setelah lewat beberapa hari, saya mulai melihat ada benang merahnya, walau tentu saja tidak ada data yang pasti. Dan mungkin belum ada survey atau riset yang mengarah ke sana.

Ketika krisis saja baru meledak, saya lalu mewawancarai Dr. Iman Sugema, seorang pakar moneter dari Intercafe – IPB untuk majalah Warta Pertamina. Dia memperkirakan bahwa krisis ini bisa lebih panjang dari 3 tahun. Kalau kurang dari 3 tahun masih bisa disebut resesi, lebih dari 3 tahun sudah bisa disebut depresi seperti depresi besar tahun 1929 sampai 1933 atau 1936 yang melanda Amerika dan dunia. Dan yang menjadi korban pertama adalah perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor keuangan.

Perkiraan itu mulai tampak nyata hari-hari ini. Hampir setiap hari kalau kita membaca suratkabar, atau menonton berita di berbagai stasiun televisi, pasti akan ada berita pemutusan hubungan kerja (PHK). Artinya dampak ke sektor riil mulai terlihat. Berbagai perusahaan manufaktur, apalagi yang berbasiskan ekspor, melakukan PHK atau merumahkan alias mengistirahatkan para pekerjanya.

PHK atau apapun istilahnya, selalu menghasilkan dampak ikutan yang tidak terduga, diantaranya dampak psikologis. Kehilangan kebanggaan dan harga diri, rendah diri, merasa tidak berguna dan tersingkir, stress, dan depresi. Apalagi jika yang terkena PHK adalah pria pencari nafkah yang menjadi tiang utama keluarga. Jikapun wanita, mungkin juga akan mengalami hal yang kira-kira sama. Tetapi jika wanita itu adalah tiang utama keluarga, mungkin guncangannya akan sama kerasnya.

Persoalan ini jika berkepanjangan, katakanlah berbulan-bulan, pada akhirnya akan sampai juga ke ranjang. Tentu lewat dapur dan meja makan. Dapur berkaitan dengan anggaran rumah tangga. Dan meja makan, dimana anggota keluarga sering bertemu, berkaitan dengan kehangatan keluarga. Nah, kalau tidak beres juga, mungkin finalnya ada di ranjang. Semacam pengadilan. Hehehe…

Kalau sudah begitu, biasanya akan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Misalnya, hubunggan seksual yang tidak memuaskan. Atau salah satu pihak (baca : pria) tidak bisa melaksanakan hubungan intim itu, karena hal-hal yang sifatnya psikologis itu.

Memang esai ini mungkin terlalu dini, tetapi sebagai suatu pemikiran, tidak ada salahnya prediksi ini dituliskan. Ketika adik saya menikah tahun 2003, salah satu kakak sepupu saya yang perempuan, Indrawati Nikijuluw bilang begini ke adik saya,”Kalau ada uang, semua akan beres-beres saja. Kalu tidak ada uang, persoalan kecil saja bisa menjadi besar.”

Dan ada pepatah lama yang mengatakan,”Ada uang abang disayang, ada uang abang ditendang.” Jadi cukup jelas kan benang merahnya?

Kalau Anda pria yang berkeluarga, berhati-hatilah. Bila Anda wanita yang menikah, bersabarlah. Dan jika Anda belum menikah, santai saja. Ha-ha-ha… *** (UHK, 11 –12 Desember 2008)

Labels:

Monday, December 08, 2008

Harga Crude Oil dan Harga BBM

HARGA CRUDE OIL DAN HARGA BBM

Hari-hari ini kita masih terus membaca di suratkabar, atau mendengar dari berita televisi, akibat dari krisis keuangan global. Yang pertama-tama dan tragis, tentu saja pemutusan hubungan kerja di berbagai perusahaan industri yang berbasiskan ekspor, karena menurunnya order dari konsumen di Amerika dan Eropa.

Yang kedua, soal harga minyak mentah (crude oil) di dunia internasional dan kaitannya dengan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Harga minyak mentah mencapai puncaknya pada periode bulan Juli 2008 kemarin, dengan harga 147 dollar AS per barrel. Dan itu pun diramalkan masih akan terus meroket sampai 200 dollar per barrel. Bayangkan, kalau harga itu benar-benar terjadi, mungkin bisa disebut pemecahan rekor yang luarbiasa.

Tetapi tiba-tiba krisis keuangan global pecah, sebagai akibat macetnya subprime mortgage (kredit pemilikan rumah) di Amerika, yang menghasilkan efek domino luar biasa pula. Krisis menjadi sah dan diakui luas setelah Lehman Brothers dinyatakan bangkrut September lalu.

Bersamaan dengan itu, pertumbuhan ekonomi dunia pun melambat, yang pada gilirannya menyebabkan turunya pula permintaan akan minyak mentah di seluruh dunia. Sehingga pelan tapi pasti, harga minyak mentah pun turun. Tetapi siapa mengira kalau ternyata penurunannya pun demikian cepat? Pagi ini, saya membaca Koran Opmet, Senin, 9 Desember 2008, harga minyak mentah sudah ada di kisaran 40 – 43 dollar AS per barrel. Artinya hanya dalam waktu kurang dari setengah tahun, terjadi penurunan yang tajam sampai sekitar 100-an dollar AS.

Di dalam negeri, harga BBM pun mulai diturunkan. Yang sudah adalah harga premium, turun Rp. 500,-. Sementara harga solar dan minyak tanah (kerosene) belum turun, tetapi mungkin tinggal menunggu waktu saja. Pejabat-pejabat pemerintah, termasuk pejabat setingkat Wapres Jusuf Kalla sudah memperkirakan Januari 2009, harga BBM akan turun lagi, termasuk solar. Ini membuat perbedaan harga Premium dengan Pertamax dan Pertamax Plus tidak jauh.

Harga BBM turun sudah pasti, karena harga minyak mentah saja turun. Soal apakah ini keuntungan politis pemerintah yang berkuasa dan sedang menghadapi pemilu, itu soal lain lagi. Bagi kita yang rakyat kecil, wong cilik, yang penting kalau memang harga BBM bisa turun, apakah harga-harga kebutuhan pokok juga akan turun? Apakah tarif angkutan umum seperti bus kota, angkot, kereta, dll juga akan turun? Kalau bisa seeh, semua harga ikutan turun. He-he-he...

Pertanyaan ini cukup menarik ditunggu jawabannya, karena mungkin kita belum punya pengalaman yang signifikan tentang turunnya harga-harga dan dampaknya pada kehidupan masyarakat, kecuali tahun 1966 lalu. Itu pun karena tuntutan masyarakat melaui demo-demo mahasiswa dengan slogan Tritura. Sesuatu yang sangat jauh sekali, dua generasi yang lewat, seumuran dengan saya.

Cuma yang menyebalkan ialah pernyataan dari Organda, juga di koran yang sama. Katanya ongkos angkutan tidak mungkin turun, karena jumlah penumpang angkot yang sepi menyebabkan biaya operasional per unit angkot menjadi tinggi. Penumpang angkot sepi karena mereka lari ke sepeda motor.

Eaalahh... Ketika harga BBM naik, Organda teriak-teriak minta kenaikan tarif. Ketika harga turun, diam saja. Pakai alasan jumlah penumpang yang sepi. Jadi intinya, mereka ingin agar tarif angkutan yang sekarang berlaku tetap, tidak perlu turun.

Mungkin kita juga perlu pengalaman baru seperti ini. Selama ini yang selalu kita alami adalah satu harga naik, biasanya BBM, maka yang lain serentak naik. Sekarang harga BBM akan turun, kok belum ada tanda-tanda yang lain ikut turun.

Aneh? Memang aneh he-he-he...dan tidak logis. Atau mungkin mereka itu perlu didemo supaya menurunkan harga-harga hasil produksinya dan tarif jasanyanya, karena salah satu faktor biaya produksi sudah jelas turun. *** (UHK, 9 Desember 2008)

Labels:

Thursday, December 04, 2008

Nurdin Halid dan Sepakbola Indonesia

NURDIN HALID DAN SEPAKBOLA INDONESIA

Menjelang pembukaan turnamen sepakbola Piala AFF Suzuki 2008 hari ini, Jumat, 5 Desember 2008, dunia sepakbola Indonesia mendapat ‘dukungan’ dari sang Ketua Umum PSSI Nurdin Halid (NH), yang baru saja bebas dari lembaga pemasyarakatan. Di siaran televisi pagi tadi, saya lihat NH meninjau latihan tim nasional Indonesia dan Stadion Utama Senayan.

Membahas sepakbola Indonesia sungguh meletihkan. Ini persoalan yang tidak ada ujung pangkalnya. Entah lebih mirip benang kusut atau lebih mirip persoalan mana yang lebih dulu, ayam atau telur. Tetapi yang pasti, sepakbola Indonesia tidak pernah maju-maju dalam satu atau dua dekade terakhir ini.

Persoalan yang paling ajaib adalah tetap bertahannya NH walaupun ia ada didalam penjara. Banyak orang yang tidak mengerti bagaimana ia bisa tetap bertahan. Persoalannya ada pada hubungan FIFA dengan organisasi nasional sepakbola setiap negara.

FIFA sangat keras menegakkan kedaulatan organisasi dan mengharamkan campur tangan pemerintah negara masing-masing dalam urusan internal organisasi. Artinya, biarapun NH mendekam di penjara selama kurang lebih 1,5 tahun, ia tidak tersentuh oleh kehendak pemerintah yang ingin menggusur NH dari kursi panas ketua PSSI. Itu pasti akan ditentang keras oleh FIFA.

Sebaliknya FIFA juga hanya bisa mengucilkan NH dan PSSI dari kalender kegiatan sepakbola international, jika PSSI tidak mematuhi perintah FIFA untuk memperbaiki Pedoman Dasar PSSI dengan mengadopsi Statute FIFA. FIFA tidak mengizinkan seorang kriminal atau yang pernah mendapat status kriminal untuk memimpin organisasi sepakbola nasional sebuah negara.

Sialnya, FIFA lupa, di Indonesia ini, orang kriminal bisa tetap punya jabatan selama ia masih mau mengeluarkan uangnya untuk mendapatkan dukungan dari orang-orangnya. Buktinya, selama di penjara pun, para pengurus PSSI tetap melakukan rapat dengan NH bahkan di dalam penjara, dalam status ia terpidana!

Jadi di sini, FIFA terjerat dengan aturannya sendiri.

Soal ancaman FIFA ini, NH dan barisan pendukungnya bisa bilang begini,”Ah, ente cuma ngancem doang. Silakan kucilkan kami, kami bisa jalan sendiri.”

Kira-kira begitulah sikap cuek bebek orang-orang PSSI. Tentu saja FIFA juga tidak bisa menganggap remeh Indonesia. Final Piala Asia 2006 di Stadion Utama Senayan, Jakarta, sungguh mengejutkan mata FIFA akan potensi penonton sepakbola Indonesia sebagai sebuat market. Sebuah pasar yang terbesar di Asia Tenggara dan fanatik pada tim nasionalnya, walau tidak kunjung berprestasi.

Begitulah hebatnya Nurdin Halid dengan kesaktiannya yang terus mengangkangi sepakbola Indonesia. Eh, memangnya si NH ini sakti? Ya, iyalah masa ya iya donk. Uang, uang, uang… Dengan uangnya yang tidak pernah ketahuan berapa jumlahnya, dan tidak pernah habis-habis, ia mampu menyumpal mulut-mulut para pengurus PSSI, tepatnya orang-orang yang duduk di Komite Eksekutif (Exco) PSSI. Dan bersama genknya, ia masih akan menguasai PSSI untuk waktu beberapa tahun ke depan.

Dari beberapa artikel dan wawancara yang pernah saya baca tentang Nurdin Halid, saya pikir dia orang yang punya visi jauh ke depan, dan tahu bagaimana membawa sepakbola Indonesia ke pentas dunia. Tetapi sayangnya sebagai manusia, ia punya cacat hukum, bahkan sampai dua kali masuk penjara. Dan cacat itu akan menjadi catatan hitam bagi sepakbola Indonesia. *** (UHK, 5 Desember 2008)

Labels:

Tuesday, December 02, 2008

Bernie Ecclestone, Inggris yang Anti-Inggris?

BERNIE ECCLESTONE, INGGRIS YANG ANTI-INGGRIS?

Musim balap Formula One tahun 2008 ini telah usai, bersamaan dengan balapan di lintasan Sirkuit Interlagos bulan Oktober lalu. Hasilnya Felipe Massa (Ferrari/Brazil), 27 tahun , menjuarai lomba home race-nya, tetapi Lewis Hamilton (McLaren/Inggris), 23 tahun, yang menjadi juara dunia.

Banyak orang yang menyambut juara dunia baru yang masih muda tersebut. Namun banyakjuga yang berpikir ulang tentang lomba jet darat ini, salah satunya Bernie Ecclestone, opa yang berusia 78 tahun. Kalau orang lain tidak mengapa, tetapi ini godfather F1 yang sudah mengemudikan manajemen F1 selama 30 tahun. Apa pasalnya?

Pasalnya Lewis Hamilton menjadi juara dengan point 91 dan merebut 5 kemenangan sepanjang 2008. Sementara Massa meraih 6 kemenangan tetapi hanya mengoleksi 90 point. Jadi Lewis lah yang berhak menjadi juara dunia Formula One 2008, karena ia unggul 1 point dibandingkan Massa pada akhir musim balap. Memang kelihatannya tidak adil ya? Hehehe…

Sebagaimana diketahui, lomba F1 mempunyai sistem penilaian untuk pembalap (driver) dan konstruktor (constructor). Masing-masing dengan nilai 10, 8, 6, 5, 4, 3, 2 dan 1 untuk delapan teratas, baik untuk kategori pembalap maupun kontruktor. Jadi hasil yang didapat Lewis dan Massa, serta pembalap lainnya, adalah hasil yang dicapai sepanjang musim setelah melalui 18 lomba di berbagai sirkuit.

Bernie rupanya gerah dengan sistem penilaian ini, yang sebenarnya juga sudah pasti disetujuinya sebelum diterapkan. Bernie mengusulkan sistem penilaian baru, yaitu dengan cara pemberian medali emas, perak dan perunggu, seperti yang lazim dalam berbagai cabang olahraga individual lainnya. Intinya, pememang medali emas yang terbanyaklah yang berhak menjadi juara dunia. Adil, kan?

Tentangan mulai datang, salah satunya dari Eddie Jordan, mantan bos tim Jordan yang sudah bangkrut. Sistem baru tersebut akan mematikan tim-tim papan tengah dan bawah , dan hanya akan menguatkan dominasi tim-tim papan atas yang kuat dananya, seperti Ferrari dan McLaren. Menurut Jordan, bagi tim-tim papan menengah dan bawah, dengan sistem point, mereka lebih termotivasi. Walaupun peluang menjadi juara kecil, tetapi bisa mendapatkan point 3 atau 2 atau bahkan 1, masih lebih berarti, daripada 0 (nol).

Alasan yang cukup rasional. Tim-tim papan bawah pun bisa tahu dimana posisi mereka di akhir musim balap.

Bernie kelihatannya akan memperjuangkan usulan terbarunya untuk menjadi penilaian musim balap 2009 atau 2010. Oke saja. Tetapi kenapa baru sekarang?

Musim balap 2007 juga menghasilkan hal yang serupa. Kimi Raikkonen (Ferrari/Finlandia) menjadi juara dunia dengan selisih hanya 1 point saja dari Hamilton (McLaren/Inggris) dan Fernando Alonso (McLaren/Spanyol). Tetapi Bernie diam saja waktu itu, tidak mengusulkan apapun. Lalu ketika Hamilton menjadi juara dunia dengan selisih point hanya 1 dari Massa, sama seperti Raikkonen tahun 2007 lalu, kenapa lalu ia mengusulkan cara penilaian baru tersebut?

Jangan lupa juga, tahun 2007, adalah musim yang paling kelabu bagi dunia balap F1, dengan pecahnya kasus spionase mekanik Ferrari, yang lalu menyeret McLaren. Dan akhirnya McLaren dihukum penghapusan point konstruktor musim balap 2007 dan denda 100 juta dollar AS. Banyak kasus yang melibatkan Ferrari, selalu berakhir dengan kekalahan lawan-lawannya Ferrari di luar sirkuit.

Ah, jangan-jangan Bernie anti-Inggris dan lebih pro pada Ferrari yang Italia. Aih, jangan gitu ah Opa Bernie… *** (UHK, 3 Desember 2008)

Labels:

Monday, November 24, 2008

Yoga, Agama dan Pewarisan Budaya

YOGA, AGAMA DAN PEWARISAN BUDAYA

Koran Opmet hari ini (Selasa, 24 November 2008) memuat berita unik yang kecil di halaman dalam tentang fatwa dari Majelis Fatwa Nasional Malaysia yang melarang warga Islam untuk berlatih yoga, karena latihan yoga ditengarai membawa muatan ajaran Hindu yang dapat merusak keimanan seorang muslim. Praktek yang disebutkan antara lain nyanyian ritual.

Kejadian ini bukan yang pertama di Malaysia. Beberapa bulan yang lalu, seorang menteri di Malaysia juga melarang umat Kristiani untuk menggunakan kata ‘Allah’ untuk sebutan Tuhan. Mereka hanya boleh memakai kata ‘God’ untuk menyebut Tuhan mereka.

Bicara agama memang susah, apalagi kalau kita bicara dengan sentimen-sentimen yang emosional. Sehingga yang muncul adalah keputusan-keputusan yang didasarkan emosi saja, dan tidak rasional.

Tidak bisa dipungkiri, yoga dalam sejarahnya memang terkait erat dengan agama Hindu dan budaya India. Tetapi zaman berubah, yoga tetap bertahan, melalui perjalanan menembus kabut waktu. Salah satu kemampuannya bertahan adalah karena yoga tidak mempersyaratkan seorang praktisinya untuk menjadi Hindu. Anda bisa tetap seorang muslim atau kristen, atau protestan, atau komunis sekalipun, namun berlatih yoga. Apalagi ketika yoga dibawa keluar dari India menuju barat yang rasional. Di barat, yoga (yang populer adalah hatha yoga) dikembangkan sebagai latihan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran praktisinya. Latihan-latihan ini meliputi olah tubuh, olah nafas, olah pikir dan olah jiwa.

Hal ini agak mirip dengan Falun Gong yang dilarang di China pada dekade 1990-an, dan sampai sekarang larangan ini masih berlaku. Tak diragukan lagi bahwa latihan-latihan qigong/chikung (the art of breathing) adalah bagus untuk kesehatan dan kebugaran para praktisinya. Di China, budaya latihan fisik sudah ada sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Namun di mata Pemerintah China, bukan manfaatnya yang dilihat, tetapi jumlahnya yang ditakuti, yaitu kalau jumlah peserta latihan falun gong meningkat terus, maka dia akan melebihi jumlah anggota Partai Komunis China. Jadilah keputusan yang tidak rasional itu dikeluarkan. Melarang Falun Gong!

Bicara agama memang susah, apalagi kalau agama-agama langit yang sangat menuntut ketaatan dan kepatuhan pada ajarannya tanpa boeh mengkritik ataupun melakukan kajian kritis. Yang ada hanyalah agama yang dogmatis, menuntut kesetiaan buta dari penganutnya.

Saya percaya bahwa apapun agama kita, baik karena kelahiran maupun karena pilihan sadar kita, Tuhan kita, atau Sang Pencipta Alam Semesta, tetaplah satu. Saya berpikir dengan sederhana saja, tidak perlu melihat ayat-ayat suci. Apakah kita Muslim, Kristen, Protestan, Buddhis atau Hindu, kita mempunyai organ tubuh yang sama. Bernafas dari dua lubang hidung, melihat melalui dua mata, mendengar melalui dua telinga, dan seterusnya, terrmasuk beranak pinak dengan alat-alat kelamin yang sama. Maksudnya, kalau Tuhan kita berbeda, seharusnya organ-organ tubuh kita berbeda juga, kecuali diantara para Tuhan itu ada standarisasi.

Kita mungkin sering melihat film-film tentang Shaolin Kungfu. Dalam salah satu film yang sempat saya lihat, ada seorang guru yang menyatakan bahwa ilmu Shaloin Kungfu tetap harus dipertahankan, tidak masalah apakah penerusnya buddhis atau bukan. Artinya, Shaolin Kungfu adalah cabang budaya yang sangat terbuka untuk siapa saja yang berminat, tanpa melihat suku atau suku bangsa, agama, ras, dan kepercayaannya.

Begitu pula dengan yoga dan latihan-latihan olah tubuh-olah pikir dan olah jiwa lainnya. Mereka akan bertahan dan selalu ada, tanpa harus terikat dengan ikatan-ikatan yang primordial dan sektarian. Larangan seperti yang dikeluarkan Majelis Fatwa Nasional Malaysia boleh ada, tetapi tidak akan mematikan yoga, termasuk di Malaysia sekalipun. Karena akan selalu ada orang yang memerlukan dan mencari latihan-latihan tersebut. Dan pada gilirannya, orang-orang itu yang telah mendapatkan manfaat dari latihan-latihan itu, akan menghidupinya, dan meneruskannya kepada generasi berikut. *** (UHK, 24 November 2008)

Labels:

Thursday, November 20, 2008

Pertahanan Indonesia Tanpa Daya Pertahanan

PERTAHANAN INDONESIA TANPA DAYA PERTAHANAN

Hari ini, Kamis, 20 November 2008, Koran Opmet (sorry, tolonga bacanya dibalik) memuat dua berita yang menarik saya. Pertama, berita di halaman dalam yang cukup besar tentang bajak laut Somalia yang merajalela dan membuat negara-negara Teluk Arab kewalahan, termasuk kapal-kapal US Navy, NATO dan jug a India yang bertugas di kawasan itu pusing tujuh keliling.

Saya membaca berita ini sebagai berikut: Sehebat-hebatnya teknologi maju atau teknologi tinggi dalam bidang pertahanan, ternyata masih bisa ditembus dengan cara-cara yang tradisional dan agak kuno. Kapal-kapal US Navy tentu diperlengkapi dengan teknologi radar yang canggih, informasi dari satelit, dan pesawat-pesawat atau heli pemburu yang tak ada tandingnya. Tetapi di hadapan bajak-bajak laut Somalia, itu bisa dipatahkan, entah bagaimana caranya. Yang jelas, mereka punya otak untuk mengakali kecanggihan teknologi perang Amerika.

Yang kedua, berita kecil saja. Wakil Presiden MJK menyatakana bahwa pertahanan masih tetap merupakan perhatian Pemerintah, walaupun anggaran pertahanan kita minim. Hal itu dikemukakan saat ia membuka pameran Indodefense di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, kemarin, Rabu..

Saya membaca berita ini sebagai berikut: Harap sabar, Pemerintah masih tetap memberikan perhatian pada sektor pertahanan, tetapi juga harap maklum, Pemerntah tidak bisa berbuat banyak untuk meningkatkan kekuatan pertahanan Indonesia karena anggaran yang minim.

Gabungan kedua berita tersebut bisa dibaca begini: Walaupun pertahanan kita lemah dan keropos, tetapi sebenarnya kalau kita mau memutar otak, kekuarangan anggaran bisa diatasi. Kira-kira begitulah.

Sepuluh tahun reformasi Indonesia,sejak 1998, reformasi sektor pertahanan dan keamanan hanya berkutat di sekitar pemisahan TNI dan Polri, peran sosial politik tentara dan polisi, serta upaya penghapusan bisnis militer. Tidak lebih jauh dari itu. Padahal ada hal yang tidak kalah penting dari itu, yaitu bagaimana membangun kekuatan postur pertahanan Indonesia yang ideal, yang sesuai dengan kondisi geografis Indonesia.

Makmur Keliat dalam artikelnya menyambut ulang tahun TNI di harian Sampok (sekali lagi, bacanya dibalik ya…hehehe…), kalau tidak salah tanggal 6 Oktober 2008, menulis bahwa pertahanan Indonesia adalah pertahanan tanpa daya pertahanan, menjadikan Indonesia sebagai anomaly di Asia Tenggara. Ketika negara-negara kawasannya terus memperkuat diri, Indonesia justru terus melemah.

Angkatan perang yang kecil, dengan persenjataan yang sudah tua dan ketinggalan zaman, serta tidak sesuai dengan kondisi geografis Indonesia yang adalah negara kepulauan.

Ketika Soeharto berkuasa, Soeharto mengembangkan politik luar negeri bertetangga baik, dengan salah satunya menggurangi kemampuan tempur ABRI, dan hanya membangun TNI-AD saja sebagai kekuatan inti. Sementara TNI-AU dan TNI-AL diabaikan.

Namun setelah Soeharto jatuh, ternyata Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan SBY tidak juga punya gagasan cemerlang bagaimana seharusnya membangun postur ideal pertahanaan Indonesia dan mensiasati minimnya anggaran militer yang bisa disediakan. Pemerintah tahu dan sadar hal ini, tetapi tidak bisa berbuat banyak.

Kita tentu tahu bagaimana perang terselubung antara Indonesia dan Australia di Timor Timur menjelang penentuan jajak pendapat 1999. Kita juga ingat bagaimana pasukan TNI di Aceh kehabisan nafas ketika harus mengejar GAM. Di kawasan timur Indonesia, bukan rahasia lagi, begitu mudah ditembus oleh pesawat-pesawat asing tidak dikenal yang datang dari selatan. Dan terakhir, kita juga bisa melihat bagaimana kapal-kapal TNI-AL yang sudah tua harus berhadapan dengan kapal-kapal Malaysia yang lebih maju teknologi di perairan Ambalat, Kalimantan.

Saya percaya, bahwa salah satu kesalahan ini diawali dari doktrin pertahanan Indonesia yang berorientasi pada daratan.” Silakan lawan atau musuh datang ke Indonesia, dan akan kita gempur di darat. “ Doktrin ini jelas sudah tidak tepat, karena membiarkan lawan masuk dan menggempurnya kemudian.

Padahal dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan, seharusnya Indonesia mengembangkan kekuatan udara (air power) sebagai payung pertahanan, dan kekuatan angkatan laut agar musuh tidak sempat mencapai daratan Indonesia. Doktrin pertahanan modern adalah kita seharusnya bertempur di luar wilayah kita.

Ah, untunglah sekarang ada calon presiden yang berpikir dan berbicara perlunya Indonesia membangun kekuatan pertahanan yang bertumpu pada angkatan laut, yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono X, sementara yang lain hanya bicara soal petani dan nelayan, mengurangi kemiskinan, membuka lapangan kerja. Atau bahkan tidak bicara apa-apa.

Tetapi apakah saya akan memilih dia sebagai presiden tahun depan? Ah, siapa yang tahu. Di dalam bilik pemungutan suara, cuma saya dan Tuhan yang tahu. Wakakakaka… *** (UHK, 20 – 21 November 2008)

Labels:

Wednesday, November 19, 2008

Manajer Sepakbola, Siapa Mau?

MANAJER SEPAKBOLA, SIAPA MAU?

Suka sepakbola adalah hal yang biasa bagi kebanyakan orang (maksudnya pria dan wanita penggila bola). Ketika bicara sepakbola, orang mungkin akan bicara tentang bintang pujaannya atau pemain favoritnya. Saya pun semula demikian, sampai suatu waktu saya sadar bahwa ada yang lebih berperan dibandingkan pemain-pemain itu, namun jarang dilihat media. Ya, orang yang berdiri di tepi lapangan dan berteriak-teriak memberi instruksi kepada pemainnya.

Di Inggris, sebutannya manager – coach. Di Italia, sebutannya allenatore atau pelatih, dan Spanyol, kalau tidak salah ya…entrenador. Dan di Indonesia, ya pelatih itu. Tepatnya pelatih kepala. Sebutan yang berbeda-beda itu menunjukkan tradisi klub dan sepakbola setiap negara.

Manager-coach, atau disebut singkat manager, di klub-klub Inggris punya otoritas yang luas. Bukan sekadar melatih para pemainnya, seperti tugas coach, tetapi juga mengelola tim dalam arti yang seluasnya. Manajer klub mencari dan mengejar pemain-pemain buruannya untuk membentuk tim yang diinginkan, dan membelinya. Suatu waktu dia juga bisa memutuskan untuk menjualnya. Itulah yang dilakukan Sir Alex Ferguson (MU), Arsene Wenger (Arsenal), Rafael Benitez (Liverpool), David Moyes (Everton), Martin O’Neill (Aston Villa) dan rekan-rekan sejawatnya di Inggris. Transfer ada di tangan mereka.

Di Eropa kontinental, terutama di Italia dan Spanyol, disebut pelatih karena dia hanya mengelola timnya dan melatihnya saja. Mereka jarang terlibat dalam pencarian dan perburuan pemain-pemain yang dibutuhkan klub. Mereka menyerahkan hal itu kepada Direktur Sepakbola (Director of Football) atau Direktur Olahraga (Sporting Director) setiap klub, suatu jabatan yang tidak dikenal dalam klub-klub Inggris. Tottenham Hotspur dan Newcastle United pernah memakai sistem ini, namun gagal. Akibatnya Kevin Keegan mundur dari Newcastle, sementara Juande Ramos dipecat Tottenham.

Balik ke Eropa, pelatih-pelatih tidak terlibat dalam proses jual beli pemain yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan. Mereka hanya mengusulkan pada direktur, dan direktur yang menangai transfer pemain masuk dan keluar.

Memang tidak ada jaminan sistem mana yang sukses dan mana yang gagal. Karena tokh ternyata kedua sistem itu bisa berjalan. Soal sukses? Ah, sukses kan soal giliran. Beberapa tahun terakhir ini klub-klub Inggris sedang berjaya di Eropa, tetapi pernah juga klub Italia, Spanyol atau Jerman yang berjaya. Tahun depan, siapa yang tahu.

Bagaimana di Indonesia? Di Indonesia, manajer dan pelatih adalah dua jabatan yang berbeda. Pelatih bertanggung jawab pada tim dari sisi teknis, sementara manajer dalam urusan manajemen. Tetapi di sebagian klub, manajer seringkali juga seperti investor. Orang yang membawa uang (investor) dan menjadi pengelola. Anehnya lagi, manajer itu bisa dipecat pada akhir musim, jika gagal. Memang kacau. Maklumlah, PSSI tidak pernah mau belajar yang benar sehingga tidak pernah maju.

Manajer dan pelatih datang dan pergi, tetapi tidak pernah kekurangan orang yang berminat. Ini bukan soal tua dan muda, namun hasrat, gairah dan kemampuan bertahan di posisi itu. Kita lihat di Inggris Paul Ince menangani Blackburn Rovers dan Tony Adams naik pangkat di Portsmouth. Sementara di Italia, Roberto Mancini digusur Jose Mourinho. Di Spanyol, Frank Rijkaard ditendang, untuk digantikan Josep Guardiola. Sementara Unai Emery duduk di takhta kursi panas Valencia.

Manajer atau pelatih sepakbola, adalah jabatan dengan tingkat stress yang tinggi, yang harus memperlihatkan hasil positif setiap minggu. Toleransi di Inggris masih lebih baik dibandingkan Spanyol atau Italia. Kalah beruntun adalah biasa. Tetapi untuk klub seperti Real Madrid atau Barcelona, atau Juventus, bisa membuat kursi pelatihnya digoyang terus.

Tetapi seperti saya tulis di bagian awal, selalu ada yang mau menduduki kursi-kursi manajer atau pelatih itu, termasuk klub-klub besar seperti El Barca, El Real, Bayern Muenchen ataupun Inter Milan. Mungkin taruhannya tidak seberapa dibandingkan prestise dan reputasi yang didapat.

Nah, kita perlu menunggu sampai akhir musim, siapa lagi manajer atau pelatih yang dipecat dan kemudian diangkat. Mungkin tidak perlu terlalu lama, pasti akan ada yang jatuh. Itulah sepakbola masa kini, ketika uang dan hanya uang berbicara. *** (UHK, 19 November 2008)

Labels:

Wednesday, November 12, 2008

Saya Mencalonkan Diri Menjadi Presiden RI

SAYA MENCALONKAN DIRI MENJADI PRESIDEN RI

Hingar bingar pemilihan Presiden AS dan pemilu untuk legislative (Senat dan House of Representative) telah selesai. Kita pun sama-sama tahu, Barack Hussein Obama Jr., si anak Menteng, memenangi kursi Presiden AS ke-44 melalui kemenangan telak yang sangat bersejarah atas John McCain.

Apa sih pelajaran yang bisa dipetik dari moment empat tahunan tersebut untuk negara ini?

Saya pikir, yang pertama harus disebut, setiap orang yang ingin menjadi presiden harus secara jelas dan eksplisit menyatakan dirinya bahwa ia mencalonkan diri untuk menjadi presiden (running for elections). Jadi kita harus melihat dan mendengar bahwa ia mengatakan,”Saya….. dengan ini mencalonkan diri untuk pemilihan presiden yang akan datang.” Nah, tinggal sebutkan saja namanya siapa dan untuk tahun berapa.

Yang kedua, ia harus mencari partai yang siap mengusungnya. Kalau di AS, jelas ia harus masuk partai dan mengikuti konvensi pendahuluan untuk mencari calon presiden sebuah partai. Jadi satu partai hanya boleh mencalonkan satu calon saja. Yang tidak mau tunduk, silakan keluar dan menjadi calon independen yang dimungkinkan undang-undang di sana.

Ketiga, membentuk tim kampanye yang solid untuk menjual dirinya dan program apa yang ditawarkan. Tim ini mendandani penampilan si calon, mulai dari cara bicara dan bersikap, hingga tampilan busananya. Tetapi yang penting, si calon memang harus bicara untuk menjual dirinya sendiri, jangan semata-mata tergantung pada anggota tim kampanye.

Dan yang ketiga, harus siap untuk menang maupun kalah. Ini harus dan mutlak, tidak bisa ditawar-tawar. Lihat saja McCain. Begitu diumumkan Obama memenangi pemilihan, McCain langsung memberikan pidato pengakuan kalahnya hanya berjarak setengah jam dari saat pengumuman tersebut. Tidak perlu berdalih macam-macam.

Nah, sekarang kita lihat bagaimana di negeri kita ini.

Soal pencalonan, kita baru maju setengah. Ada yang sudah tegas menyatakan pencalonannya seperti M. Fadjroel Rachman, Sutiyoso, Sultan Hamengku Buwono X dan juga Slamet Soebijanto (mantan KSAL). Tetapi ada yang masih kasak-kusuk mencari partai atau timbang sana timbang sini. Dan ada juga yang merasa tidak perlu mengumumkan pencalonannya, tokh, sudah banyak pihak yang menyebut namanya. Itu sudah cukup, pikir orang jenis ini. Artinya, mulutnya tidak mau kotor kalau nanti kalah.

Soal partai, di Indonesia ini, partai bisa dilihat sebagai kendaraan politik yang bisa disewa kapan saja oleh si calon . Yang penting punya uang banyak untuk menyumpal mulut dan perut pengurus-pengurus partai yang umumnya tidak punya duit. Jadi kita tahu, disini uang banyak berbicara, dan tidak cukup dengan gagasan ideal saja. Jelas, money politics, kan? Akibatnya, muncul istilah anak kandung dan anak kost. Anak kandung miskin, anak kost pasti kaya. Hehehe…

Ketiga, tim kampanye harus solid dan oke. Ada banyak ahli yang harus dihimpun di sini, dari yang benar-benar ahli sampai yang kadang-kadang ternyata petualang dan penipu saja. Yang terjadi, si anggota tim kampanye sudah ngomong macam-macam, eh, si calon tidak tahu apa-apa. Nah, lho…jeblok tuh si calon.

Dan yang keempat, harus siap untuk menang atau kalah. Dari ratusan pilkada yang sudah diselenggarakan, ternyata lebih banyak yang sebenarnya siap menang, tetapi tidak siap kalah. Hasilnya kita lihat, banyak protes setiap kali usai pilkada. Dan anehnya, tidak pernah ada calon yang mengaku kalah dan memberikan selamat pada lawan politiknya. Oh, ada, Adang Daradjatun ketika kalah merebut posisi Jakarta-1. Nah, dia ini ksatria.

Dengan pelajaran terkini yang kita lihat dari liputan media cetak dan elektronik terhadap pemilihan Presiden AS, kita bisa tahu sampai dimana kedewasaan kita dalam berpolitik. Nah, karena saya sudah dewasa dalam politik, jangan kaget, kalau besok saya mencalonkan diri menjadi Presiden RI. Anda terkejut? Jangan dulu, saya baru akan maju tahun 2014 atau 2019 yang akan datang kok. Sekarang cari duit dulu donk yang banyak. *** (UHK, 13 November 2008)

Labels: